Lelaki itu telah bersiap dengan sarung wangi kambojanya. Istrinya telah tunai menamatkan bedak pada pipi, dan sangat bersahaja dengan baju terusan berwarna putih dengan payet warna serupa di ujung kain. Jilbabnya panjang menjauhi dada. Dengan sepeda motor mereka hendak berangkat ke rumah sakit menjenguk Bu Halimah yang telah sebulan terbaring karena penyakit jantung. Kabarnya, penyakitnya bertambah parah kemarin.
Di rumah sakit, di depan ruang Melati, telah menunggu sanak saudara juga anak satu-satunya, Annisa, dengan cemas melingkupi wajahnya. Katanya, dokter tengah memeriksa sang ibu ditemani suaminya, Raifan. Mata Annisa sembap seolah lantai sehabis diguyur gerimis. Jilbabnya kuyu, bajunya lusuh, sebab telah seminggu dia menunggu sang ibu dengan cemas.
Suami lelaki paruh baya itu mengusap-usap bahu Annisa, dan membisikkan kata-kata yang tak dapat didengar olehnya. Selama menunggu dokter memeriksa Bu Halimah, lelaki itu berbincang-bincang dengan paman Annisa, Abdul Kodir. Setelah sarapan, kemarin kondisi Bu Halimah sebenarnya sudah membaik, ujar Abdul Kodir, dan seharusnya sudah bisa dibawa pulang. Namun setelah shalat Zhuhur usai, ia pingsan dan detak jantungnya tiba-tiba melemah. Puncaknya adalah selepas Subuh, Bu Halimah bergumam dalam tidurnya, memanggil-manggil nama suaminya yang telah lebih dulu tiada. Semakin siang, detak jantungnya semakin lemah. Terakhir Annisa mengatakan bahwa ibunya susah bernapas, kemudian ia lekas memanggil dokter dan menunggu di luar sampai yang lain datang.
Lelaki itu mengembuskan napas melihat betapa rumit perasaan si anak, Annisa.
Pintu ruangan terkuak. Raifan, suami Annisa bermuka sendu, memanggil Annisa untuk menghadap sang ibu. Lelaki paruh baya itu juga turut dipanggil memohon mengantarkan sakratul maut si empunya tubuh dengan membacakan Yasin.
Masuk ke ruangan itu, dia seolah merasakan ketenangan menggelayut di dinding-dinding kamar, hangat melingkupi udara. Bu Halimah bernapas satu-satu dengan tenang sambil mengucapkan beberapa patah kata kepada sang anak. Tak kedengaran jelas oleh lelaki paruh baya itu, namun persis setelah Yasinnya kandas, suara syahadat dari bibir si empunya tubuh terdengar bagai gelenting bel membuat tubuhnya kuyu dan bergetar. Dalam sekejap, saat lelaki paruh baya itu tak lagi menyaksikan si empunya tubuh mengembuskan napas, mulutnya ternganga, matanya menatap dalam wajah Bu Halimah. Wajah yang terang, kulit yang putih bagai langit.
***
“Padahal, dua hari lalu Bu Halimah itu baru masuk rumah sakit lho, Pak. Tapi, hari ini ia sudah bikin selametan.”
“Patut disyukuri, Bu. Suami istri seperti bunga dan tangkainya. Selaras.”
“Alhamdulillah, Pak. Saya teringat dengan Pak Suryaman itu. Beliau meninggal setelah memberi makan anak yatim.”
“Saya ingat, Bu.”
“Ini, Pak, dimakan. Penganan dari selametan.”
“Ngomong-ngomong Bu Halimah bikin selametan buat siapa?”
“Saya juga tidak tahu, Pak. Tadi di rumahnya banyak anak dari panti. Oh iya, saya ingat, ibu-ibu pengajian kemarin bilang Bu Halimah ulang tahun hari ini.”
Lelaki itu mengangguk. Seingatnya, saat anaknya, Annisa, menikah dua tahun yang lalu, Bu Halimah juga mengundang anak panti ke rumahnya. Lalu saat akikahan cucu pertamanya, ia sekeluarga bertandang ke rumah jompo menggelar acara di sana. Membayangkan itu semua, tak terbayangkan olehnya nikmat Tuhan di surga kelak.
“Pak, jangan melamun. Tidak baik.”
“Astaghfirullah. Oh, sudah Ashar, Bu. Sisakan kuenya buat nanti malam.”
“Kenapa, Pak?”
“Lho, kan Suryadi dan istrinya mau datang, Bu.”
“Oh, masya Allah, saya lupa, Pak. Sudah lama saya tidak menimang-nimang anak Suryadi, Pak.”
***
Sudah seminggu lelaki itu hanya berbaring di kamarnya. Sekujur badannya panas dan menggigil. Dokter berkata kalau dia terserang demam biasa. Anaknya, Suryadi, telah dua hari menginap di rumah bapaknya itu.
Istrinya tak paham dengan kondisi suaminya. Setelah pulang dari rumah sakit menjenguk Bu Halimah, dia langsung tidur dan keesokan paginya mengeluh kedinginan. Saat diukur dengan termometer, panasnya sampai 40 derajat, membuat Bu Hajjah panik.
Sementara itu, lelaki paruh baya itu dalam sakitnya membayangkan tubuh Badrun menggelepar di aspal. Bersamaan dengan itu, dia membayangkan Bu Halimah yang meninggal dengan tenang, dengan syahadat terucap sempurna di bibirnya. Berbeda jauh dengan kondisi Badrun juga bapaknya menjelang sakratul maut.
Tengah malam, dia terbangun dengan tubuh panas dan tangan gemetar. Dia membangunkan istrinya dan mengeluh kedinginan.
“Sudah hangat, Pak?” tanya istrinya setelah menyelimutinya dengan sarung ketiga.
Dia menggeleng. “Bu, saya takut.”
“Kenapa, Pak?”
“Saya… sa….”
“Kenapa, Bapak?”
Dia memejamkan matanya, mengembuskan napasnya dan mencoba menahan dingin tubuhnya. “Saya melihat malaikat membawa orang-orang itu.” (*)