Dongeng Nostradamus

AKU benar-benar berusaha melupakan surat berkertas kecoklatan itu. Bagiku itu benar-benar tidak penting. Tak ada hubungannya dengan hidupku. Siapa yang bisa meramal masa depan? Dari rasi bintang? Ah, ada jutaan orang di dunia yang memiliki rasi bintang yang sama. Apakah dengan demikian jutaan orang itu memiliki nasib yang sama? Nyatanya tidak.
Aku benar-benar hampir bisa melupakan surat itu sejak aku membakarnya. Hampir. Hampir saja. Kalau kejadian beberapa jam lalu itu tidak terputar dalam hidupku. Entahlah, mungkin saja orang iseng yang menulis surat kepadaku itu benar-benar bisa meramal dengan baik. Atau ini kebetulan belaka. Mendadak saja, istriku mengaku sakit perut menjelang dhuzur tadi. Dan kata-kata yang diucapkannyalah yang menampar kesadaranku.
“Sepertinya, aku sudah mau lahiran, Bang!”
“Sudah waktunya?” aku cemas, istriku mengangguk dengan muka meringis.
“Sudah sembilan bulan dua belas hari, Bang. Sudah lebih dari masanya.”
Seperti diperintah, aku teringat dengan isi surat lelaki bernama Michel de Nostradame itu. Bulan ke sembilan, lewat dua belas hari. Aku menelan ludah. Entah, sugesti itu begitu kuat. Dan aku ketakutan sendiri. Takut yang teramat sangat. Tapi, tak ada pilihan. Aku membawa istriku ke rumah sakit. Dan di sinilah aku, bertarung cemas dengannya. Jemari kami hanya bisa bertautan. Aku tak tega melihat keryit wajah istriku.
Dokter dan perawatnya masih memberi aba-aba dan berusaha. Pun istriku. Cemasku kian kentara. Terlebih ketika melihat jarum jam melingkar di pergelangan tanganku. Matahari hampir terbenam, magrib sebentar lagi datang.
“Dok, bisakah kelahirannya ditunda sampai isya. Jangan magrib,” pintaku tiba-tiba. Dan tentu saja dokter itu mengeryit bingung, pun istriku yang masih meringis. Aku bungkam. Isi surat Nostradamus itu kian berseliweran dalam tempurung kepalaku. (*)
.
.

C59, 9-10 Januari 2012

.

.

Arsip Cerpen di Indonesia