Arip menggerakkan empat jari di bawah meja ke arahku. Aku mengangguk setuju.
“Dua puluh, tiga puluh, atau empat puluh?” lanjut Matlak sambil menyumbingkan bibirnya. Tampak giginya yang kuning.
“Kurang ajar! Ia pandai menebak keinginanku,” batinku.
“Empat puluh juta,” lempar Arip.
Matlak tidak menolak. Tangan kanannya segera merogoh saku celana hitamnya.
“Ini dua puluh juta, separuhnya akan kuberikan setelah pohon itu kutebang.”
“Tapi, bagaimana dengan polisi hutan itu?” Arip menimpali.
“Tak usah khawatir, itu urusan gampang, tapi aku tak perlu menceritakannya padamu bagaimana aku melakukan semua itu.” Matlak tertawa lepas. Asap mengepul dari bibirnya.
Setelah itu, aku langsung menuju ke pasar. Sementara Arip pulang dengan membawa sepuluh persen uang dari penjualan pohon itu.
Aku memborong semua kebutuhan dapur. Tak lupa kubeli baju untuk Sakur, adikku. Lalu, aku pulang dengan rasa gembira yang dahsyat. Setiap langkah adalah senyum ayah dan ibu silih berganti.
Mesin Sinzu meraung di kejauhan. “Sebentar lagi sisa uang itu akan menumpuk di dompet ini,” batinku. Aku terus berjalan. Kudengar bunyi “kratak, kratak, kratak, duuur….” pohon tumbang. Bayangan akan uang kian jelas di kepalaku.
Entah mengapa, terasa ada yang aneh. Dari kejauhan, kulihat orang susul-menyusul menuju rumahku. “Dasar! Pasti mulut nyinyir si Matlak telah mengabarkan kepada orang-orang perihal terjualnya pohon itu. Sehingga, mereka menyerbu rumahku—merasa wajib mendapat sedekah dari hasil penjualan pohon jati itu,” simpul batinku menggerutu.