Baca juga: Rendang Buatan Ibu – Cerpen Ahda Imran (Media Indonesia, 17 Juli 2016)
Pada suatu malam di puncak sekaratnya, Madubun melihat malaikat pencabut nyawa masuk ke pondoknya yang kecil dan kotor. Malaikat itu datang sebagai lelaki berselubung kain hitam, berjalan setenang orang suci. Berdiri di sisi ranjang, ia berkata dengan suaranya yang lembut dan mulia, sehingga Madubun merasa lelaki berselubung kain hitam itu bukanlah malaikat pencabut nyawa. “Anakku, hanya ada satu jalan yang bisa membawamu keluar dari jalan kematian.”
Madubun tidak tahu siapa dia dan mengapa ia memanggilnya seperti itu. Tapi, walau tetap merasakan takut yang luar biasa, Madubun sedikit gembira karena lelaki berselubung kain hitam itu bukan malaikat pencabut nyawa. Ia datang membawa harapan. “Dan jalan itu bisa kau dapatkan, Anakku, sepanjang kau bersedia hidup sebagai pendeta, sebagai paderi dan imam,” katanya.
Sambil menahan sekarat, Madubun mengangguk. Lalu lelaki berselubung kain hitam itu meletakkan telapak tangannya, beberapa inci di atas keningnya. Dari bekas luka di telapak tangan lelaki berselubung kain hitam itu, meneteslah darah, menetesi kening Madubun, sebelum ia pergi sambil berkata, “Darah di keningmu sebagai perjanjian, Anakku. Jika kau mengingkarinya, jalan kematian akan datang padamu.”
Jadi, begitulah mulanya. Sejak itu, ada tanda hitam di kening Madubun. Tubuhnya mulai pulih dan sejak itu selama bertahun-tahun ia mulai mempelajari kitab-kitab kebajikan, berguru kepada orang-orang saleh. Berkelana dan menyepi. Hanya memakan jenis makanan tertentu berupa sayuran dan biji-bijian. Menghentikan makan sebelum merasa kenyang, pantang meminun anggur dan mencari kekayaan, apalagi bersenggama. Tak boleh sebuah kata pun keluar dari mulutnya melainkan kebenaran yang diucapkan dengan cara yang lemah-lembut.
Madubun nyaris gila menjalani semua itu. Mati-matian ia berlatih dan mematuhi semua pantangan yang dianggapnya bodoh itu. Berkali-kali ia melarikan diri, melepas jubah yang membuatnya merasa lebih mirip badut dalam rombongan sandiwara. Ia pergi meninggalkan Kota Suci dengan kegembiraan yang meluap-luap. Tetapi, belum separuh perjalanan dari gerbang Kota Suci, penyakit jahanam itu kembali menyerang tubuhnya. Ia memungut jubahnya dan kembali ke Kota Suci. Akhirnya, Madubun merasa harus menyenang-nyenangkan hatinya. Setiap hari, Madubun mencoba percaya bahwa ia merasa bahagia, setidaknya karena masih bisa hidup.