Di dalam mimpi, aku bertemu seorang gadis berwajah elok dan mulus sedang duduk di salah satu ruangan. Ia terlihat sendu dan muram. Aku mencoba mendekati gadis itu.
“Kamu sedang apa di sini?” tanyaku sambil memerhatikan sekelilingku yang tampak sangat kumuh dan seperti tak berpenghuni.
Tiba-tiba gadis itu melirik ke arahku dengan wajah berlumuran darah, kulitnya yang semula mulus berubah keriput dan penuh luka. Aku mundur menjauh. Kulihat ia merangkak ke arahku sambil menangis tersedu-sedu. Tangisannya sangat menyayat hati, membuatku merasa iba sekaligus takut. Dan tiba-tiba aku terbangun dari tidur.
“Sebenarnya apa yang terjadi?” tanyaku penasaran. Aku keluar kamar, berniat menenangkan pikiran. Kurasakan udara dingin menusuk tulangku, kulihat jendela samping rumahku terbuka.
“Aku sudah menutupnya sebelum tidur. Lalu siapa yang membukanya?” tanyaku heran tanpa alamat.
Tiba-tiba sudut mataku menangkap bayangan pohon randu yang bergoyang-goyang. Tak seperti tertiup angin, tapi lebih mirip bergoyang karena ada yang berloncat-loncatan di dahannya. Buru-buru kututup jendela dan kembali masuk ke dalam kamar.
***
Kejadian jendela yang selalu terbuka tengah malam dan mimpi-mimpi buruk itu berlanjut sampai hampir sebulan lamanya. Aku merasa ada yang aneh dengan rumah ini, terlebih dengan pohon randu itu. Hari ini aku berencana mengadakan pengajian di rumahku selepas zuhur dan lanjut memotong pohon randu setelah pengajian selesai.
Para tokoh agama di sekitar rumahku mengimbau seluruh warga yang rumahnya berdekatan dengan pohon randu untuk menutup seluruh jendela dan pintu selama pemotongan pohon randu. Anak-anak kecil pun dilarang keluar rumah selama pemotongan berlangsung.
Sebelum memotong pohon tersebut, aku seperti mendengar rintihan seorang perempuan yang terdengar amat jelas. Anehnya, hanya aku yang mendengarnya. Aku berusaha mengabaikan, tapi suara rintihan itu semakin kencang saat satu demi satu potongan pohon randu mulai berjatuhan di jalanan.