Ayah tertawa. “Tabulampot adalah tanaman buah dalam pot. Jika biasanya tanaman produktif ditanam di atas tanah, kali ini media tanamnya di dalam pot. Metode ini cocok untuk lahan terbatas seperti rumah kita.” Lala pun manggut-manggut.
Aktivitas berkebun pun dimulai. Ibu sibuk memindahkan mawar merah, soka, dan bugenvil dari wadah polybag ke dalam pot. Ayah dibantu Lala mencampur tanah, pasir, pupuk, dan sekam, lalu memasukkannya ke pot besar. Ada tiga bibit tabulampot yang ditanam, yakni pohon sawo kecik, mangga arumanis serta jambu air. Menjelang sore, semua sudah beres dan rapi.
“Rumah kita sekarang jadi tampak asri, ya?” ujar Lala.
“Tentu saja, kan banyak bunga dan tabulampot. Coba ya dari kemarin-kemarin kita menanamnya,” tanggap ibu.
“Selain itu, udara di lingkungan rumah kita akan semakin segar karena pepohonan menyerap karbon dioksida dan melepaskan oksigen yang dibutuhkan manusia untuk bernapas,” lanjut ayah.
“Wah, ternyata pohon banyak manfaatnya ya, Ayah?”
Ayahnya mengangguk.
“Yang pasti, Lala tak perlu keluar uang jika ingin sawo. Tinggal metik, cuci, terus makan, deh,” kata Lala lagi sambil nyengir kuda. Ayah dan ibu tertawa mendengarnya.
Lala senang memiliki “taman baru” di halaman rumahnya. Setelah itu, ia rajin menyiram tanaman dan berharap tabulampotnya segera panen. *