Tiang Lampu

Malam sudah turun ke bumi saat Kurnia baru bisa dibawa pulang dengan kursi roda ke rumahnya. Suasana rumahnya masih dipenuhi anggota keluarganya yang tak sempat membesuknya ke rumah sakit. Kekhawatirannya semakin tinggi saat mendengar suara teman-temannya di luar kamar. Sakitnya seakan menjadi-jadi.

“Awas, kalian jangan buka mulut!” kata Kurnia geram setengah meringis karena sakit pada dahinya.

“Tenanglah, Kur,” kata Aris berusaha menenangkan. “Tapi, apa tidak mencurigakan? Hanya kamu yang parah, sementara kami tidak apa-apa.”

“Nah, itu…”

Pembicaraan Kurnia terhenti saat pintu kamarnya terkuak. Ayahnya masuk dengan raut wajah datar. Sementara teman-temannya yang membesuk menepi ke pinggir kamar. Mereka seperti sungkan pada ayah Kurnia yang tampak datar. Wajah mereka tertunduk ke arah lantai.

“Jadi benar itu murni kecelakaan?” tanya Ayah kurnia dengan menatap ke lantai sembari berdiri dan memasukkan dua tangan pada saku celananya.

“Ayah, itu benar-benar murni kecelakaan!” kata Kurnia.

“Lalu, kenapa hanya kamu yang terluka? Parah lagi. Kalau mau mencelakakan diri ya di tempat yang pas agar mampus sekalian! Bukan nabrak tiang lampu. Kalau begini, membuat ribet orang saja kamu ini!”

Keadaan kembali hening. Teman-teman Kurnia seperti tak memiliki kosa-kata yang tepat untuk dikatakan. Hingga, ayah Kurnia duduk di salah satu kursi. Lalu, teman-teman Kurnia pamit pulang. Meski tak ada jawaban, ayah Kurnia tetap memberi nasihat dan seakan tahu rencana yang dibuat oleh anaknya sendiri. Kurnia hanya diam menyesap kata-kata ayahnya sendiri yang membuat dia seakan telanjang bulat.

 

Cerpenis asal Sumenep, lulusan Sastra Inggris UIN Sunan Ampel Surabaya. Sekarang Tinggal di Yogyakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia