Pidato Politik

Prastowo tersenyum ceria menyimak respons sejumlah pihak terkait rencana pidato politik yang akan digelarnya. Dia senang karena banyak pihak memperhatikannya. Itu artinya dia masih populer dan layak untuk maju sebagai calon presiden dalam pilpres mendatang.

***

Sehari menjelang digelarnya pidato politik, Prastowo menggelar rapat di kantor partainya. Dia meminta jajaran pengurus partai memberikan masukan terbaru untuk dijadikan materi pidato politiknya.

Baca juga: Kesetiaan Kader – Cerpen Eko Triono (Kedaulatan Rakyat, 23 September 2018)

Tiba-tiba sekretarisnya mengusulkan agar pidato politik diundur satu bulan. Alasannya agar banyak pihak menanti lebih lama, sehingga terjadi diskusi-diskusi di tengah masyarakat yang akan makin memopulerkan nama Prastowo dan partai.

“Ini saatnya kita meningkatkan popularitas partai tanpa susah payah, cukup dengan menunda pidato politik selama satu bulan.”

Prastowo setuju. Rencana pidato politik ditunda satu bulan. Ketika penundaan itu disiarkan media, banyak pihak berkomentar macam-macam.

“Prastowo memang sejak dulu mengidap sikap ragu-ragu. Sekarang pun ternyata sikapnya tetap ragu-ragu, sehingga rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.”

Baca juga: Bohong – Cerpen Ryan Rachman (Kedaulatan Rakyat, 14 Oktober 2018)

“Jangan mengira rakyat bodoh. Rakyat pasti tertawa. Memang lucu kalau rencana pidato politik saja ditunda satu bulan.”

“Apa jadinya bangsa dan negara ini kalau sampai dipimpin Prastowo? Lha mau pidato politik saja harus ditunda satu bulan? Itu membuktikan dia tak layak jadi pemimpin!”

Mendengar komentar macam-macam itu, Prastowo sedikit risau dan menyesal telah menunda rencana pidato politik. “Harusnya tidak ditunda. Tapi aku tidak akan mengubah lagi keputusan. Rencana pidato politik sudah telanjur ditunda,” Prastowo bergumam.

Arsip Cerpen di Indonesia