Rencana Darmawisata

Gimana kalau kita iuran untuk Tina?” usul Setya kemudian.

“Setuju!” sahut Dimas.

“Sebentar!” sela Salsa. “Aku tahu benar sifat Tina yang tidak suka dikasihani. Dia pasti menolak sumbangan kita.”

“Terus, bagaimana?” Dina mengerinyitkan kening.

“Aku ada usul. Biasanya saat darmawisata, setiap anak dapat sekotak kue waktu berangkat dan nasi lauk untuk makan siang. Nah, bagaimana jika kita pesan semua konsumsi ke ibunya Tina?”

“Usul yang bagus.” Bu Tyas bertepuk tangan sambil berdiri. “Dengan begini, secara tidak langsung kalian semua sudah membantu Tina agar bisa ikut darmawisata.”

Semua anak kelas lima pun setuju dengan usulan Salsa itu.

Bu Tyas senang melihat antusiasme siswa-siswinya membantu temannya yang sedang kesulitan. “Ibu bangga sekali. Selain memiliki jiwa kepedulian sosial yang tinggi, ternyata kalian bisa memecahkan satu persoalan dengan jalan bermusyawarah. Oh iya, Salsa. Tolong nanti pulang sekolah kamu jenguk Tina sekaligus pesan konsumsi darmawisata kelas kita ke ibunya Tina, ya. Bilang Ibu yang pesan. Ibu baru bisa ke rumah Tina besok siang.”

Salsa mengangguk senang. Ia merasa tak sabar ingin segera menjenguk Tina dan memberitahukan berita gembira ini padanya. Ternyata dengan bermusyawarah dan bermufakat, masalah yang dihadapi temannya itu bisa terselesaikan dengan baik. *

 

Arsip Cerpen di Indonesia