Perempuan Bermata Sayu di Pelabuhan Bajoe

Rahayu menurut saja. Dia pun mengangguk lemah. Esoknya, mereka pergi ke Pelabuhan Bajoe. Erwing juga pergi meskipun badannya masih sangat loyo. Sesampainya mereka di sana, mereka mulai membuang telur dengan dibantu La Dompe. Lelaki tua itu berkomat kamit sebelum melemparkan telur ke laut. Selanjutnya, La Dompe berkomat kami lagi sebelum melepaskan seekor ayam jantan di area pelabuhan.

Ritual itu selesai tanpa hambatan. Mereka pulang ketika langit mulai menghitam.

Hari-hari setelahnya, Erwing sungguh-sungguh sembuh. Lelaki plontos itu terlihat bugar sebugar-bugarnya. Sayangnya, dia sudah tidak lagi bekerja sebagai penjaga palang di Pelabuhan Bajoe karena manajer benar-benar memecatnya.

“Tidak masalah, Daeng. Banyak ji pekerjaan yang lebih baik. Rezeki juga sudah diatur Tuhan.” Rahayu menguatkan suaminya. Dan Erwing semringah.

Erwing lalu pergi. Dia mengambil sepeda motornya, lantas melaju dengan sangat kencang. Erwin kemudian berhenti tepat di dekat palang pelabuhan. Selepas memarkirkan motornya, dia pun berjalan tanpa mengindahkan mantan rekannya yang menatapnya bingung. Lelaki itu menuju pembatas jalan, dan mencoba naik.

“Mau ki apa, Wing?” tanya mantan rekannya heran.

Sebelum terjun ke laut, Erwing berteriak, “Mauka ketemu istriku.”(*)

 

Watampone, 5/7/18

Justang Zealotous. Seorang guru Bahasa Indonesia dan instruktur Bahasa Inggris. Kelahiran Watampone, 17 Februari 1994. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Bone.

Arsip Cerpen di Indonesia