Sahabat Masa Lalu

Baca jugaMisteri Rumah Baru

Hatiku deg-degan. Aku sebenarnya cemas sekali, entah apa yang telah kulakukan. Apakah aku sudah yakin dengan keputusanku? Sekian lama menungggu akhirnya kami berjumpa. Ternyata semua tak seburuk apa yang kupikirkan. Ternyata dia masih cantik dan lebih cantik daripada sosoknya dua belas tahun lalu. Kami ngobrol seperti tiada habisnya.

Beberapa minggu kemudian, aku sadar dia mengidap stres berat. Sekilas dia terlihat normal seperti wanita biasa. Ternyata dia sering menangis memikirkan ketidaklulusan sampai kini. Dia juga sering berteriak-teriak sendiri. Dan selalu mengulangi kata-kata “aku tak lulus”. Walau keadaannya begitu, aku menerimanya apa adanya. Aku juga tak mungkin lari dari kenyataan. Kalau aku pergi, maka dia akan semakin menderita. Kalau sekali lagi hal buruk mengguncang jiwanya aku yakin dia akan gila.

Dia bercerita padaku ketika ayahnya pulang membawa berita ketidaklulusannya dia menangis tiada henti, mimpi buruk pun datang setiap malam, pikirannya mendadak kosong, hanya air mata yang terus berlinang. Takut malu berjumpa dengan siapa pun dan terus mengurung diri. Merasa bersalah dan tak berbakti kepada orangtua. Pikiran bunuh diri pun sempat terlintas kala itu.

Aku merasa sangat bersalah karena tak pernah datang menjenguk dan menghiburnya. Tapi aku berjanji akan mengobati dan menghapus semua penderitaannya karena aku tahu hanya aku yang dapat mengobati luka di hatinya. Siapa pun itu pasti akan pilu apabila menjadi dia. Dia termasuk wanita tegar. Berjuang di atas keterpurukan. Shinta gadis malang, sebelum ujian ibunya menyuruhnya bekerja di dapur, jarinya terluka oleh pisau sehingga ia tak dapat mengisi bulatan lembar ujian dengan sempurna.

Bersamaku membuatnya seperti kembali ke masa sekolah, kita tak perlu lulus, kita akan selalu besama seperti ini. Kelulusan hanya membuat kita berpisah. Kita akan tertawa dan bercanda ria kembali seperti dulu dan selamanya bersama, menikah dan membesarkan anak bersama. Aku mencintaimu wahai sahabatku…

 

Januari 2018

Arsip Cerpen di Indonesia