Baca juga: Perempuan Sunyi – Cerpen Januari Sihontang (Analisa, 22 Oktober 2017)
Sekarang semuanya mulai jelas. Aku makin paham mengapa ketika aku mengingatkan temanmu yang mati dengan ular di selangkangannya itu, airmatamu langsung jatuh. Airmata itu jelas untukku. Bukankah begitu, Yoh? Apakah dia juga mantan kekasihmu?
Begitulah Yoh, malam ini ada energi yang menarikku. Seperti pintu yang kita tinggalkan dalam keadaan terbuka. Inikah lubang hitam itu, Yoh? Setelah tiga tahun, rasa itu berulang kembali. Rasa yang sama seperti aku mencium bibirmu pertama kali.
Sungguh Yoh, aku tak mengerti, mengapa selalu ada orang yang tega membuka masa lalu, di saat pemiliknya mati-matian melupakannya.
Yoh, di manakah kau kini? Di manakah kau sembunyikan genit matamu yang mengiba itu? Tidak tahukah kau aku sedang menggenggam belati? Tak takutkah kau bila ujung belati ini yang akan meluruhkan sejarah kita?
Ha, Yoh, rasa itu mulai datang. Rasa yang sama, saat pertama kali tanganku terciprat darah manusia. Yoh, kenapa belati ini semakin dingin ujungnya.