Walat Malioboro

Baca juga: Masjid-masjid Itu Menjadi Perahu – Cerpen Mashdar Zainal (Kedaulatan Rakyat, 20 Mei 2018)

Mula-mula ia abaikan. Saat mulai tersiksa, ia atasi dengan resep nalurinya. Minum jamu, minum air soda, minum beer, dan sambat mengeluh kepada dhemit Malioboro. Bahkan, Wanadi sudah minta maaf dan ampun dengan membakar kemenyan, menabur kembang. “Kali ini aku tobat. Kuwalat tenan. Jinguk, tobat tobat … soto babat campur kawat!”

Wanadi merenung. Dulu, ketika memulai membecak sudah dipesan para seniornya untuk tidak kencing sembarangan di kawasan Malioboro. Ia merasa telah melanggarnya sekaligus menganggap enteng akibat walat yang diterimanya. Kali ini, walat yang menimpanya teramat berat dan menyiksa. Mestinya Wanadi periksa ke Puskesmas. Tapi, tidak. Wanadi memilih samadi tengah malam di dekat bekas tonggak pohon ringin selatan Pasar Beringharjo.

Seperti mendapat bisikan gaib, Wanadi melangkahkan kaki ke arah selatan. Ia mengikuti saja perintah gaib itu. Terus berjalan menggudu tanpa banyak pikiran sampai perempatan Kantor Pos, berbelok ke kiri lalu menyebarang ke arah Kantor Bank Indonesia. Seperti ada yang menyuruh, ia sampai di bekas pekarangan parkir yang kini terdapat bangunan bawah tanah, beratap indah dan ada pintu lorong buat memasukinya. Wanadi memandanginya saja, lalu yakin bahwa itu tempat kencing. Sayang, tempat kecing megah itu tutup, tidak membuka pelayanan. Wanadi seperti ada yang menyuruh, segera bersimpuh di depan pintu lorong menurun, menyembah berulang-ulang sembari membaca mantra pertobatan.

Serta merta pula, pipa ledeng di alat vitalnya terasa terenggang dan deras mengucurkan air seni sepenuh isi perutnya. Wanadi kecing terduduk di situ, berjam-jam lamanya. Wanadi berkubang kencing sendiri. q– g

 

Yogyakarta, Maret 2018

Arsip Cerpen di Indonesia