Emak Kundir bergegas ke belakang rumah. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat itu. Namun alangkah kecewanya Emak Kundir. Tempurung kelapa sudah terbalik. Hajatnya tidak ada lagi di sana. Barangkali ada binatang yang memakan.
“Mungkin aku buang hajat terlalu dekat ke perkampungan.” Pikir Emak Kundir. Dia memungut tempurung tergeletak di tanah, lalu melanjutkan langkah mendaki puncak bukit. Emak Kundir mondar-mandir mencari tempat sembunyi. Setelah merasa aman, dia jongkok di balik semak-belukar yang rimbun. Hajatnya ditutupi dengan tempurung. Aroma kurang sedap berasal dari hajat tidak lagi tercium.
***
Emak Kundir bangun pagi sekali. Pakaian kotor dalam ember segera dicuci. Kedua tungku dinyalakan. Satu untuk menjerang air. Satu lagi untuk memasak nasi. Pekerjaan dapur harus segera selesai. Ingin cepat-cepat pergi ke semak-belukar belakang rumah. Semoga binatang tidak lagi memakan hajatnya seperti minggu lalu. Emak Kundir menyambar jaket kumal dari atas meja dapur. Udara pagi masih terlalu dingin. Jalan setapak terlihat basah. Napas tersengal mendaki tanah sedikit berbukit. Lima meter di depan, tampak Emak Joran tengah tertatih menuruni bukit. Apa dilakukan perempuan nyinyir itu di sana? Mulut Emak Joran terbungkam ketika mereka berpapasan.
Emak Kundir melanjutkan langkah. Tak ada waktu memikirkan perubahan sikap Emak Joran si nyinyir itu. Ada hal lebih penting harus Emak Kundir lakukan sebelum Hamdan bangun dan berangkat kerja. Emak Kundir berhenti. Tidak ingat di mana tempat hajatnya berada. Rumpun semak-belukar terlihat sama. Lima belas menit berlalu, tempurung berisi hajat belum juga ketemu. Emak Kundir mondar-mandir mencari. Menyesal tidak membuat tanda minggu lalu. Emak Kundir kembali melanjutkan langkah mendaki bukit. Akhirnya, Emak Kundir menemukan tempurung tertelungkup. Dia berlari menghampiri. Tempurung diangkat. Hajat sudah mengering bersatu dengan tanah. Permukaan tanah mengembang dan bergerak-gerak.
Dengan pinggiran tempurung, dikeruk tanah yang telah bersatu dengan hajat. Seekor kumbang keluar. Kumbang itu Emak Kundir cari. Sampai di rumah, segera menghidupkan api dan meletakkan kuali di atas tungku. Kumbang kotoran segera dilempar ke permukaan kuali. Kumbang itu disangrai, lalu digiling hingga lumat seperti debu.
“Ini kopinya. Tadi keluar sebentar membeli gula.”
Emak Kundir berbohong sembari meletakkan kopi di atas meja. Hamdan minum hingga tandas. Emak Kundir kegirangan. Sebentar lagi, sang suami akan tunduk. Kumbang kotoran yang dilumat telah dicampurkan dalam kopi. Tak lupa mengucapkan mantra yang diajarkan Datuk Maligi.