Perempuan Penggemar Burung

Minasih makin senang, karena sudah punya mobil dan banyak uang. Ketika suaminya pulang, Minasih menunjukkan mobil dan banyak uang yang diperolehnya Tapi suaminya justru tiba-tiba cemberut.

“Kamu tak suka melihat keberhasilanku berbisnis burung, Mas?” tanya Minasih.

Suaminya bungkam dengan wajah tetap cemberut. Sepertinya sedang dibakar cemburu buta.

Minasih tak mau bicara lagi dengan suaminya. Dibiarkan suaminya langsung tidur. Minasih menduga suaminya sangat lelah dan perlu istirahat setelah tiga bulan bertugas meliput kemelut politik di luar kota yang jauh.

Ketika Minasih sudah tidur di samping suaminya, tengah malam itu, tiba-tiba suaminya bangun dan langsung membebaskan semua burung yang ada di sangkar-sangkar. Lantas mengambil bensin yang ada di tangki sepeda motornya. Suaminya seperti kesurupan setan, begitu terburu-buru membuat beberapa bom molotov, sebelum menyalakannya dan meledak membakar rumahnya.

Minasih terlambat bangun ketika rumahnya sudah terbakar. Api berkobar-kobar menghanguskan semua bagian rumah. Minasih terjebak di dalam kamar yang sudah dikunci dari luar oleh suaminya. Minasih menjerit-jerit minta tolong. Suaminya kabur dengan sepeda motornya.

Tetangga-tetangga agak terlambat berdatangan dan segera berusaha memadamkan api yang berkobar. Satu jam kemudian api berhasil dipadamkan. Tapi mereka gagal menolong Minasih yang ikut terbakar hingga hangus di dalam kamarnya. Mereka tak melihat suami Minasih pulang. Mereka tak curiga bahwa yang membakar rumah itu adalah suami Minasih.

Esoknya, suami Minasih pulang dan diwawancarai oleh jumalis yang ingin membuat berita tentang terbakarnya rumah dan istrinya. Berita itu ditayangkan di televisi. Berita itu dilengkapi narasi yang mengandung opini: Ada dugaan rumah itu dibakar oleh oknum pencinta lingkungan yang sangat benci kepada penggemar burung. Dengan terbakarnya rumah itu, diharapkan semua penggemar burung segera melepaskan burung-burung yang dipeliharanya agar hidup bebas di alam raya. ***

Arsip Cerpen di Indonesia