Kita benci orang-orang dewasa yang berteriak di jalan, saling parang, saling panah, saling bunuh. Kita benci tak bisa lagi sekolah dan bermain karena keadaan porak poranda. Aku dan keluargaku lari ke mana, kau dan keluargamu mengungsi entah di mana.
Tom, aku bahkan benci jadi dewasa. Jika dewasa membuat orang-orang terkotakkan oleh kepentingan, biarlah aku selamanya kanak-kanak saja.
Malam ini, aku pulang. Apa kau masih di pulau itu?
***
Bapak Majid. Teluk Kao, Desember 1999.
Tom, anak lelakiku. Kau heran mengapa dunia cepat sekali kiamat. Mengapa orangorang membakar rumah kita, rumah ibadah, kebun kelapa, semuanya. Bahkan orang-orang membakar seraya membumbungkan teriakan kepada langit berasap, seakan itu adalah persembahan. “Apakah dengan halilintar dan badainya, langit belum cukup mengerikan, Pak?” Tanyamu. Karena setiap yang bernama langit, menyimpan kitab dan malaikatnya masing-masing, benakku.
***
Tatiana. Teluk Kao, Desember 1999.
Saat ini Ramadan dan bertepatan dengan Natal.
Kudengar kampung kita sudah hangus terbakar. Kudengar ada ratusan mayat di luar sana. Beberapa dari mereka adalah keluargamu, bahkan mungkin keluargaku. Dari jendela, kuresapi tangisanmu. Masuklah ke sini, Tom. Aku adalah keluargamu juga. Aku tidak akan seperti mereka yang menanyakan asal kampung, silsilah darah, atau agamamu. Kita saudara dalam kemanusiaan, tak seperti mereka yang berpaling demi tambang, kepentinga dan kebodohan. Aku tahu, tak pernah ada pemeran pengganti untuk menanggung derita korban perang ini, namun kita bisa berdoa bersama, memohon bersama, kepada nama Tuhan yang tak sama. Masuklah ke sini, Tom.
Tapi kau terus berlari. Kau berlari mengikuti punggung lelaki yang menggendong saloi berisi pana-pana wayer, kau berlari di belakangnya. Lalu kemana bapakmu?
Itu terakhir kusaksikan pundakmu. Aku berteriak memanggil namamu dari balik pintu gereja yang terkunci. Aku menangis. Aku mengingat, harusnya hari ini kau memberiku kartu ucapan bergambar winnie the pooh.
***