“Keren juga ya si Yudha,” bisik perempuan yang duduk di bangku ke-2 dari depan kepada teman sebelahnya.
Setelah mencapai tempat dudukku kembali, aku hanya kembali memandangi awan yang berpisah menjadi bagian kecil dan memberi jarak agar birunya langit tampak jelas, dan diriku pun hanya tersenyum.
“Baik. Yang terakhir Vannesa Merlyn, silakan maju dan perkenalkan diri kamu ke teman-teman yang lain,” ujar Pak Bima.
Vannesa Merlyn. Nama itu berhasil menarik mataku hanya tertuju padanya, ia pun berjalan dengan indah, ia juga mengingatkanku akan seseorang yang ada di malam berbintang. Entahlah apakah itu hanya mimpi, aku pun tak mengerti.
“Perkenalkan, nama saya Vannesa Merlyn. Saya berasal dari Poris Indah.” Ia langsung menuju tempat duduknya yang berada di depanku dan memandang langit biru itu.
Vannesa Merlyn, siapakah kamu? Hanya itu yang kupikirkan bersama dengan mimpi yang menghilang itu hingga sekolah usai. Dia membuatku bergetar.
“Vannesa!” panggilku saat ia masih menatap senja.
“Iya?” jawabnya. “Mmmm…Yudha Lesmana ya?”
“Iya, gue Yudha.”
“Kenapa, Yud?”
“Lo sampe kapan mau di sini?”
“Iya, kenapa gitu?”
“Gak apa-apa kok, gue nemenin lo ya.”
“Terserah lo itu mah.”
Kami berdua hanya duduk berhadapan dalam diam di antara langit yang semakin gelap bahkan hingga tak ada lagi jingga.
“Kenapa lo mau nemenin gue sampe sekarang?” Tanyanya masih memandang malam baru.
“Gak tau ya. Gak cuma mau aja di sini,” jawabku. “Emang lo nungguin apa?”
“Gue nunggu langit malam tanpa gemerlapnya Kota Tangerang.”
“Emangnya ada apa di langit kalau gak ada lampu kota?”
“Ada orang yang gue tunggu, saat itu keluar dari porosnya.”
“Siapa?” jawabku.
Seketika bayangan akan mimpi itu pun kembali datang kepadaku. “Entahlah, gue gak bisa ngasih tau lo. Lo yang harus ingat sendiri.”
“lngat apa? Gue gak ngerti,” jawabku bingung.