Perlahan namun pasti, satu persatu di antara mereka mengerjakan tugasnya. Dua orang menggali tanah di sekitarku, dengan sangat berhati-hati. Mereka terus bekerja dan bekerja, hingga akhirnya sampai di tahap akhir, mencabutku. Saat akan mencabutku, lebih banyak orang dikerahkan. Percobaan pertama gagal. Percobaan kedua juga. Begitu seterusnya. Sampai mereka hampir putus asa.
Aku menyaksikan itu semua dengan perasaan campur aduk. Antara marah, miris, sedih dan gelisah. Seandainya saja orang-orang itu tahu, mereka tak perlu capek-capek melakukan pekerjaan sia-sia ini. Karena sebagaiamana pernah kukatakan, mereka tak akan berhasil. Sekuat apapun mereka mencoba.
Dalam diriku ada Sekar dan Randu. Dua orang dari masa yang sangat lampau, yang saling mencintai tak bisa bersatu. Randu anak saudagar batik kaya, sedang Sekar anak buruh pabrik gula. Randu tak pernah dapat restu untuk menyunting anak buruh pabrik. Mereka dipaksa berpisah. Mereka memilih melajang sampai tutup usia.
Di sinilah kuburan mereka. Randu dan Sekar menyatu dengan tanah, diserap akar-akarku. Dalam diriku bereka bertemu. Maka, tidak ada seorangpun yang bisa memindahkanku dari sini. Sebab, adakah yang lebih tangguh dari cinta yang dipisahkan dan kemudian menyatu? *
A Zakky Zulhazmi, pengajar di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam IAIN Surakarta.