“Iya, Li. Memang betul akan segera dibuang. Tapi Ibu teringat sering ada pemulung yang mengaduk-aduk isi tong sampah mencari barang-barang bekas untuk dijual. Ibu takut bila tak sengaja mereka menyentuh pecahan gelas ini dan terluka.”
“Oh…,” Lili bergumam kecil.
Bungkusan berisi pecahan gelas itu segera dibawa Bu Aini ke depan dan dibuang ke tong sampah besar yang di depan rumah.
Ah, kenapa diriku seperti ini? rutuk Lili dalam hati, menyalahkan diri sendiri. Dibandingkan ibunya yang sangat berhati-hati dalam mengerjakan segala hal, Lili sangatlah bertolak belakang. Bu Aini orang yang sangat berhati-hati dan teliti, sedangkan putri bungsunya alias Lili adalah gadis ceroboh yang tidak cermat.
Pikiran Lili melayang-layang memikirkan kecerobohannya selama ini. Diingat-ingat dan dihitung-hitungnya total sudah berapa kali dia memecahkan peralatan dapur di rumah. Lebih dari belasan kali. Bukan peralatan dapur saja, bahkan kadang botol kaca kosong bekas isi minuman bersoda pun sering pecah saat dipegang atau dipindahkan. Lili memang tak sengaja, botol kaca itu seperti melompat sendiri keluar dari genggamannya saat dipegang.
Sambil berjalan, Lili terus memikirkan semua kecerobohannya sampai dia tak sadar langkahnya sudah sampai di dekat tangga dan kepalanya, “Tuk!” terantuk keras mengenai sudut anak tangga.
“Aduh!” spontan Lili menjerit kecil. Digosok-gosoknya kepalanya yang terasa sakit sekali karena terantuk cukup keras. Ditahannya nafas, mengatur debaran di hatinya yang cepat karena takut ibunya mendengar suaranya barusan dan bergegas ke dapur lagi melihat apa yang terjadi.
Untunglah Bu Aini tidak mendengar jerit kecilnya tadi karena dia sedang berada di depan rumah menyapu halaman.
“Hah! Sial sekali aku hari ini!” Lili berkata-kata sendiri. Dengan kesal dia berjalan ke kamar mandi, bermaksud hendak mencuci tangan dan kaki, hitung-hitung membuang sial. Tapi, baru saja kakinya menapak di lantai kamar mandi sambil tangannya menggosok-gosok kepalanya yang sakit, lagi-lagi dia terpeleset, “Gedubraaak…!”
Pintu kamar mandi berdebam keras, karena saat Lili terjatuh ke belakang, tangan kanannya menghantam pintu kamar mandi yang ringan, sedangkan tangan kirinya refleks berusaha menggapai pinggiran bak mandi agar kepalanya tak terbentur ke belakang. Oh, untunglah cuma sebatas punggungnya yang menghantam lantai kamar mandi, sedangkan kepalanya selamat.