Tirakatan

Aku pun pernah meminta kakek membatalkan sumpahnya karena sampai kiamat pun pasti tetap ada rakyat miskin di negeri ini. Tapi kakek tetap tidak berhenti tirakatan. Menurut cerita ibu, dulu sewaktu masih hidup nenek juga sering merayu kakek agar berhenti tirakatan, dengan sengaja memasak aneka menu kesukaan kakek di siang dan malam hari. Tapi kakek tetap tirakatan meskipun di meja makan penuh menu kesukaannya yang siap untuk dinikmati.

Lalu nenek putus asa dan ikut-ikutan tirakatan. Kakek kasihan melihat nenek selalu lesu dan pucat karena ikut-ikutan tirakatan. Kakek kemudian menyuruh nenek agar berhenti tirakatan. Tapi nenek tetap tirakatan, hingga ajal menjemputnya.

Aku pun pernah mencoba mendesak kakek agar berhenti tirakatan dengan ikut-ikutan tirakatan, tapi aku hanya mampu tirakatan selama sepekan. Tubuhku sangat lemas dan wajahku pucat. Ibu membawaku ke rumah sakit. Aku diinfus agar segera kembali segar bubar.

“Makan dan minum yang banyak biar tidak mengalami malnutrisi lagi.” Dokter berpesan sebelum aku meninggalkan rumah sakit.

Setibanya di rumah, kakek menertawakan diriku. “Kamu tak akan kuat tirakatan. Kalau kamu nekat lagi tirakatan, bisa bahaya!”

Baca juga: Perempuan Penggemar Burung – Cerpen Nazil Muhsinin (Solo Pos, 29 Juli 2018)

Aku bersungut-sungut. Dan , aku mendadak sangat muak ketika membaca koran yang baru diantar loper. Ada berita di koran itu bahwa sejumlah kepala daerah dan segenap pejabat akan menggelar acara tirakatan pada malam 17 Agustus di pendapa kabupaten dengan tumpeng raksasa untuk dinikmati bersama.

“Tirakatan ternyata sudah diubah menjadi pesta tumpeng,” gerutuku sambil membayangkan pesta nasi tumpeng di malam 17 Agustus tahun lalu. Setelah itu, aku juga teringat berita tentang sejumlah kepala daerah yang ditangkap KPK.

“Apakah karena tirakatan telah diubah maknanya menjadi pesta nasi tumpeng, kemudian korupsi merajalela di negeri ini?” tanyaku dalam hati.

 

Bumi Mina Tani, 2018

Arsip Cerpen di Indonesia