Air Mata

Dan tepat sebelum hari raya kurban kau pulang. Setelah informasi terkini menyebutkan kondisi kembali aman. Selama perjalanan kau hanya membayangkan beberapa hal: kota yang hancur, wajah-wajah kusut masai, mata-mata yang lelah menangis, dan tidak seorang pun di rumah. Ya, mungkin hanya tetangga, kau bisa bertanya-tanya nantinya.

Pas hari Lebaran, tepatnya perasaanmu kembali dikorbankan. Pertanyaan-pertanyaan, untuk siapakah hari raya itu? Ayah-ibu meninggal sewaktu kau kecil lantaran kecelakaan sebuah penerbangan yang tak mau disebut lalai. Sementara kau sendiri tak mau menyalahkan Tuhan. Kendati, kata orang-orang di luar, Tuhan sedang menjatuhkan hukuman. Kau hanya ingin menangis dalam doa-doa kecilmu, sambil lalu mengakui kesalahan. “Tuhan, barangkali Kau senang dengan air mataku. Maka jangan Kau buat mataku tandus. Biarkan, semua hari adalah air mata.” ❑- g

 

Madura, 2018

D Inu Rahman Abadi, kelahiran Sumenep 17-04-95. Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu al-Quran Nurul Islam sekaligus penikmat kopi, senja dan sastra. Saat ini tengah menunggu antologi cerpen pertamanya terbit

Arsip Cerpen di Indonesia