Angku Zainal

Di lahan yang sudah lama terbengkalai itu ia menanam beraneka-macam sayur-sayuran, seperti bayam, wortel, kacang panjang, kangkung, dan lain-lain. Angku Zainal juga menanami lahannya dengan tumbuhan rempah, semisal kunyit, serai, jahe, dan banyak bumbu dapur lainnya. Hasil panen kebun itu ternyata cukup untuk menutupi biaya hidup. Bahkan, apabila hasilnya sedang melimpah, Mak Ainun sampai harus menjualnya ke pasar pekan.

Syahdan, tawaran menjadi marbut itu baru datang ketika Wak Hambali yang sebelumnya menjadi datuk sekaligus imam di masjid kampung Lubuk Kisam meninggal dunia. Semula terjadi silang pendapat perihal penunjukan Angku Zainal menjadi marbut. Orang-orang mencibir ilmu agamanya yang tak sebanding dengan mendiang Wak Hambali. Ada juga yamg belum bisa melupakan tabiatnya saat menjadi dukun patah tulang.

Di kepala mereka terbayang sesosok dukun kampung yang kikir dan mematok harga selangit junjung kepada para pasiennya. Namun, karena tak ada yang mau menggantikan tugas-tugas Wak Hambali, seperti mengisi bak air wudhu, membersihkan lantai masjid, menguras WC, dan lain sebagainya, mau tak mau mereka akhirnya bersepakat bahwa Angku Zainallah yang paling tepat menggantikan posisi Wak Hambali.

Baca juga: Riwayat Gelang Akar – Cerpen Adam Yudhistira (Lampung Post, 29 Juli 2018)

Profesi itu melekat di badan Angku Zainal sampai akhir hayat dan membuat namanya harum selepas kematian. Namun, seandainya saja orang-orang kampung Lubuk Kisam mengetahui peristiwa sebelum malam nahas itu terjadi, hampir dapat dipastikan, luntur sudah kekaguman mereka pada kisah menggetarkan sosok alim Angku Zainal yang telanjur mereka elu-elukan.

***

Siang itu, sebuah sedan hitam masuk ke pelataran masjid Kampung Lubuk Kisam. Dari dalam kendaraan mengilat dan mewah itu keluar dua orang, yaitu satu lelaki dan satu perempuan. Mereka berdua bukan warga Kampung Lubuk Kisam, sebab tak ada satu pun warga yang mem punyai mobil sebagus dan semulus itu. Paling bagus hanyalah mobil pick up milik tauke Subhan yang sering dijadikan kendaraan pengangkut buah sawit bila masa panen tiba.

Shalat Zhuhur baru saja selesai dan Angku Zainal sedang menyapu lantai manakala dua orang tamu tak dikenal itu menyapanya tanpa uluk salam. Sekonyong-konyong mereka mengajukan permintaan yang nyaris membuat jantung Angku Zainal mencelat dari tempatnya dan matanya melotot menatap mereka tak percaya.

“Tolong nikahkan kami, Angku. Kami saling mencintai dan tak ingin dipisahkan,” rengek si perempuan sambil bergelayut manja di lengan si lelaki.

“Hei, setelah tanpa salam dan tanpa sopan kau masuk ke rumah Tuhan, sekarang kau mau bertingkah gila, anak muda?” hardik Angku Zainal sambil menudingkan gagang sapu ke muka dua orang di hadapannya.

Si lelaki langsung memegang tangan Angku Zainal, “Maafkan kelancangan kami, Angku. Kami sedang panik.”

Arsip Cerpen di Indonesia