“Gombal..,” kata Rara sambil tertawa kecil mendengar perkataan Adit di ujung telepon.
“Kapan kita mau jalan lagi?” Rara melontarkan pertanyaan lagi.
“Sebenarnya aku bisa, Sayang. Tapi duitnya mau aku pakai dulu buat beli pulsa.”
“Jadi kamu sayang duitmu buat beli pulsa ketimbang ajak aku jalan, gitu?!”
“Bukan begitu, aku hanya tak ingin ketika aku rindu kamu, aku hanya bisa membayangkanmu tanpa bisa mendengar suaramu gegara nggak ada pulsaku buat telepon kamu.”
Baca juga: Ayah Tiri – Cerpen Herumawan PA (Republika, 16 Maret 2014)
Terdengar Rara kembali tertawa kecil di ujung telepon.
“Ya sudah, sekarang kamu cepetan beli pulsanya.”
“Oke,” Adit lantas menutup teleponnya. Lalu bergegas memakai jaket dan tak lupa membawa payung. Kemudian pergi ke penjual pulsa langganan di ujung jalan.
“Mas, beli pulsa dua puluh lima ribu,” kata Adit membacakan nomor ponselnya. Si penjual lantas memasukkan pulsanya.
“Sudah masuk,” sahut penjualnya. Adit mengangguk sambil membayarnya.
Adit ditanya penjualnya. “Masnya kan baru seminggu lalu beli pulsa di sini, kok cepat habisnya, buat teleponan atau SMS-an pacar ya?”
“Enggak.”
“Lha terus kok sekarang beli pulsa lagi?” tanya penjual lagi.
“Buat perpanjangan masa aktif, Mas. Sekarang kan lebih singkat masanya.”
Adit yang sedang memeriksa pulsanya terkejut ketika tiba-tiba sebuah jeweran mendarat di kuping kirinya.
Baca juga: Pahlawan – Cerpen Herumawan P A (Kedaulatan Rakyat, 13 Agustus 2017)
“Suruh jaga rumah, malah kelayapan beli pulsa.”
“Ampun, Kak. Adit cuma beli pulsa doang.”
“Bohong! Kamu kan bisa telepon Kakak buat beliin pulsa.”
“Pulsa Adit tinggal sedikit, Kak.”
“Sudah jangan banyak alasan, ayo pulang!!” teriak Ade, sang kakak, marah.
Sambil berjalan pulang ke rumah, ia tak melepaskan jeweran sedikitpun. Adit berjalan dengan menahan kesakitan di kuping kirinya.
Yogya, 3 Agustus 2018
Herumawan Prasetyo Adhie. Jalan Wonosari Km 9, Dusun Sribit Kidul RT 01/RW 11 Sendang Tirto, Berbah, Sleman, Yogyakarta 55573