Kebun Binatang di Dasar Laut

Kami bekerja siang dan malam tanpa boleh mengenal lelah. Kami sering sekali kelaparan. Di daratan, aku sebetulnya terbiasa lapar. Tapi rasanya tidak aneh. Di tempat ini, rasa lapar malah membuatku sesak dan ingin muntah.

Mula-mula, rasanya memang menakutkan sekali. Aku menangis sambil memanggil Ibu. Katanya, semua anak-anak yang datang ke tempat ini pasti begitu. Menangis keras sekali sampai tak bisa berucap apa pun, membisu dengan sendirinya. Kami akan sibuk bekerja, ngobrol adalah suatu hal yang jarang sekali kamu lakukan. Kami hanya akan bergumam. Dan yang paling banyak kudengar, anak-anak berbisik memanggil Ibu mereka.

Baca juga: Saya Menikahi Seorang Ateis – Cerpen Nanda Winar Sagita (Koran Tempo, 17-18 November 2018)

Lambat laun, perasaan takut itu menyelimur, tersamarkan oleh perasaan aneh lainnya. Entah karena aku telah menjadi lebih berani atau hanya terbiasa. Aku tak bisa membedakan keduanya. Semua terlihat biasa saja-bahkan pada kematian yang berulang kali kusaksikan. Mereka tak lagi terasa menakutkan.

Terlalu banyak kematian yang kami saksikan di sini. Tentu saja tidak hanya pada ikan yang kami tangkap. Tapi pada teman-teman kami. Biasanya, kami hanya akan terdiam dengan berpura-pura sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Semua akan biasa saja. Minggu depan, akan ada yang mati lagi, kemudian datang anak-anak baru, lalu mereka menangis karena takut, kemudian mereka bekerja tanpa banyak bicara.

Jadilah semua yang pada awalnya menakutkan bagi kami menjadi biasa saja. Jika ada teman yang dipukuli, biasa saja. Jika ada yang mati, biasa saja. Ada yang kelaparan, biasa saja. Kami sudah terbiasa dengan semua ini. Sama seperti luasnya lautan, rasanya hanya kosong dan hampa. Jika pun suara gemuruh badai ombak mengiringi kegelisahan kami, suaranya seolah terdengar hanya samar-samar.

Baca juga: Lina dan Perihal Babi yang Divisum – Cerpen Petrus Kanisius Siga Tage (Koran Tempo, 10-11 November 2018)

Mayat-mayat kami dikubur di lautan tanpa ritual yang sakral. Hanya tubuh kami yang belum mati betul akan dibuang ke laut lepas. Kata salah satu lelaki yang sehari-hari mengawasi kami, ikan-ikan akan masuk surga karena memberi makan manusia. Dan anak-anak yang mati di sini juga akan masuk surga karena memberi makan ikan-ikan.

Hanya ada tiga kematian yang menghantuiku dengan ketakutan. Kematian pertama, kedua, dan ketujuh belas. Ah, aku bahkan menghitungnya. Aku tak pandai berhitung sebetulnya. Aku bahkan tak lulus sekolah sadar. Semoga hitunganku salah, atau mungkin itu hanya kematian yang aku tahu.

Arsip Cerpen di Indonesia