Tanah

Tanah adalah mantra yang jika salah menggunakannya, darah segar menjadi tumbal, menetes tiada henti. Tanah adalah azimat yang jika kau tak hati-hati memperlakukannya, kepalamu akan terpenggal, menjadi gundul pringis yang menghantui turunanmu hingga 100 tahun generasi. Hai warga Sidoarjo, hai warga Tambak, hai warga Kendeng, hai warga Jebres, bersatulah. Sebab kekuatanmulah yang akan meremukkan jiwa para penjarah. Dengung gumam mereka menyebar. Tidak keras tapi tikamannya menelusup jantung serupa teluh.

Baca juga: Sehelai Kerudung – Cerpen Junaidi Khab (Kedaulatan Rakyat, 11 November 2018)

Perampasan terhadap Siti terjadi di depan mata Tabah, tapi Siti tak mau harga dirinya terkoyak. Dia memilih mati daripada menjadi jarahan para bajingan. Jerit membelah angkasa. Siti gugur. Hening menyergap. Awan muram lalu gemuruh guntur menggetarkan jiwa. Mereka seperti merapal kata-kata. Tanah adalah nyawa, adalah jiwa, adalah raga, adalah sikap, adalah napas leluhur sebagai perawat identitas. Tanah adalah harga diri yang tak tergantikan. Tabah berdiri. Matanya memerah. Tangan kirinya mengangkat gambar para keparat. Tangan kanannya menunjuk gambar itu. Lantang suara terdengar dari mulutnya. “Tanah adalah kepalamu! Tanah adalah ndhasmu!”

 

Yuditeha, tinggal di Karanganyar. Menulis puisi dan cerita. Kumcer terbarunya Cara Jitu Menjadi Munafik (Stiletto, 2018). Novel terbarunya Tjap (Basabasi, 2018). Aktif di Sastra Alit Surakarta dan Pendiri Kamar Kata Karanganyar.

Arsip Cerpen di Indonesia