Entah atas dasar apa, si pemimpin rombongan akhirnya merogoh dua lembar uang berwarna merah dari dalam dompetnya dan memberikannya kepada Gina. Barang yang ia beli adalah jilbab Pasmina yang tergantung tepat di dinding bagian kiri. Ibu itu sama sekali tak menawar harga yang disebutkan oleh Gina. Hati Gina benar-benar senang, sebab akhirnya ia pecah telur juga. Setelah melakukan pembayaran, si pemimpin rombongan menjelaskan mengapa jilbab itu ia beli. Ternyata karena jilbab tersebut sudah lebih dulu laku terjual di kios Lolly Boutique. Lolly juga mengatakan bahwa minggu ini suaminya akan berangkat ke Jakarta untuk membeli beberapa seri jilbab yang sudah banyak dipesan.
Hati Gina kembali remuk mendengar hal itu. Seketika ia menyesali apa yang telah ia perbuat beberapa tahun yang lalu, “Andai dulu aku tidak rakus akan uang, maka mungkin kini aku akan tetap tentram dengan keluargaku. Ketika matahari mulai tenggelam, aku akan menutup kios ini dengan senyum dan hati yang damai. Ketika waktu makan siang tiba, aku akan makan dengan lahap tanpa memikirkan apa yang akan datang setiap jam empat sore.” Namun kata-kata tersebut hanya bersuara dalam hati dan pikirannya. Ia pendam seorang diri.
***
HARI sudah menunjukkan pukul tiga sore. Suaminya tiba membawa anak mereka yang masih berumur lima tahun. Anak itu bernama Rocky. Nama itu diberikan oleh suaminya karena kelak nanti, ia ingin anaknya menjadi pribadi yang sekuat dan seberani Rocky Balboa. Ia ingin kelak nanti, ketika anaknya telah dewasa, ia bisa menjaga martabat keluarganya dari orang-orang yang senang menindas, seperti apa yang mereka alami kini, pasangan suami-istri yang terlilit hutang oleh inang-inang peternak uang. Sekali saja meminta dispensasi untuk tidak membayar angsuran harian, maka yang akan mereka terima bukan sebuah pengertian, melainkan caci-maki yang amat menyiksa hati.
Suaminya tak bertahan lama duduk di kios itu. Setelah lima belas menit kedatangannya, ia meminta diri kepada istrinya dengan alas an pergi ke masjid. Istrinya tahu betul bahwa ia takkan mungkin melarang suaminya akan hal-hal yang berkaitan dengan agama, walaupun jauh dalam hatinya ia sangat menyadari siasat itu, siasat menghindari kontak muka dengan si inang penagih angsuran uang harian yang akan segera tiba sebentar lagi. Dengan raut wajah dingin, ia paksakan untuk mengangguk, dan suaminya pun berlalu.