Kopi Nakal dan Cerita Lucu di Hari Itu

Saya kemudian mengambil buku yang dia berikan itu. Tiba-tiba Kopi mengajak saya untuk masuk ke dalam rumah. Tapi dia meminta untuk digendong. Dan saya harus menggendongnya. Ketika saya merunduk dan ingin menggendong Kopi, tiba-tiba dia malah lari menjauh. Aku mengejarnya tapi dia semakin menjauh. Semakin kukejar, semakin dia jauh. Dan tak pernah letih tuk dapatkannya. Tapi aku tak mampu!

“Kenapa, Nak?” ungkap saya dengan volume suara yang agak keras.

“Di kepala ayah ada tahi burung!”

“Opss!”

***

Malam menjadi semakin sepi dan pengunjung kedai sudah tidak ada terlihat di sini. Segelas kopi telah habis. Hanya tersisa gelas kaca kosong dengan serbuk hitam yang tidak bisa diminum lagi. Si pemilik kedai menatapku seakan-akan dia memberi tanda bahwa kedai akan segera ditutup. Aku kemudian bangkit dari tempat duduk dan membayar semua belanja yang telah aku habiskan. Di perjalanan pulang aku kembali teringat semua cerita dalam imajinasi itu. (*)

Arsip Cerpen di Indonesia