Selepas lulus di SMP swasta di kota kecamatan, Paino tidak melanjutkan SMA. Ia memutuskan bekerja karena Biyung sudah tak sanggup membiayai sekolah. Bapaknya sudah lama meninggal sejak ia masih duduk di bangku SD karena terjatuh dari pohon kelapa saat menyadap nira. Paino pun kerja serabutan alias kerja jika ada yang memerintah. Badan yang kekar, dengan kemampuan ototnya, ia sering diminta warga sekitar rumah untuk bekerja. Kadang menjadi kuli pengangkut pasir, kadang ngglondong, kadang membangun rumah. Namun yang paling sering diminta menjadi kuli bangunan untuk mengerjakan proyek di kabupaten atau luar kota. Bahkan tak jarang ia pergi ke luar kota untuk menjadi kuli proyek besar seperti membangun apartemen, perkantoran, hingga jalan tol.
Baca juga: Pohon Berbisik – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 23 Desember 2018)
Lama membujang, usia 23 tahun ia menikah dengan Darni, gadis hitam manis berperawakan mungil yang rumahnya sekitar seratus meter dari rumah Paino. Keduanya dulu satu kelas di SD. Namun saat Paino sekolah SMP, tidak lagi bersamanya karena Darni tidak melanjutkan sekolah. Gadis itu memilih menjadi buruh bulu mata palsu di plasma di desanya.
Dua tahun menikah, anak pertama lahir. Paino memberi nama Fatimah, dengan harapan, kelak, menjadi gadis berhati mulia, cantik luardalam seperti putri Kanjeng Nabi Muhammad SAW. Nama itu sebenarnya bukan dia yang memberikan, melainkan atas saran Ustaz Ngalimin. Di rumah, Paino biasa memanggilnya Imah. Saat ini gadis kecilnya baru masuk TK di dusun tetangga.
Baca juga: Kecantikan Itu Melukaiku – Cerpen Lana Savira KD (Suara Merdeka, 09 Desember 2018)
Paino sangat menyayangi anaknya. Selain istrinya, Imah menjadi pelepas lelah setelah hampir seminggu bekerja berat di proyek. Melihat tingkah polah gadis berponi dan pipi gembil itu, Paino selalu tertawa lepas dan gemas. Dan segala letih pun lepas ke awan. Pernah suatu petang, Paino dipanggil-panggil anaknya untuk menemani bermain riasmerias. Imah menaburkan bedak rata di seluruh wajahnya. Lalu memoles bibir merah merona dengan lipstik dan mleber hingga ke pipi. Kontan, Darni mencak-mencak melihat sang anak mengacak-acak peralatan dandannya. Paino hanya tertawa lebar melihat anak dan istrinya itu.
Paino sangat berharap, anaknya bisa tumbuh besar menjadi perempuan saleh. Menjadi kebanggaan saat ia tua nanti dan selalu mendoakan ia dan istrinya bila sudah berada di kuburan. Karena itu, saban sore, istrinya selalu mengantar Imah ngaji di kediaman Ustaz Ngalimin. Paino sadar betul, ia tidak bisa mengajari anaknya mengaji dengan baik karena pengetahuannya tentang agama mung-mungan.
***