Di Frankfurt Januari Ini Sepi Sekali

Aku turun dari panggung. Berdiri paling depan, memimpin rombongan. Kami bergerak meninggalkan panggung demonstrasi. Seribu meter dari Gedung Pusat UGM. Ada perempatan jalan besar. Kami tetap bergerak. Namun tepat di depan department store lokal, rombongan mahasiswa diadang puluhan aparat keamanan. Lengkap dengan sepatu lars, tameng, pentungan, dan gas air mata.

Entah siapa memulai, terdengar sebuah kata kencang lagi keras, “Serbu!!!” Serentak pentungan turun dari udara. Menebas tubuh mahasiswa. Menerjang kaki mahasiswa. Kekerasan tercipta. Rombongan mahasiswa berhamburan. Cerai-berai menuju empat penjuru mata angin senyampang dengan guyuran gas air mata.

Mataku panas. Aku tertatih-tatih. Gebukan pentungan mendera tubuhku. Aku tersungkur. Sebelum gebukan kedua menghajar, aku segera bangkit. Berlari. Tiga aparat keamanan menyusul. Lorong-lorong department store. Berujung di sebuah gang. Gang yang terasa amat panjang. Sebuah pertigaan, aku belok ke kanan. Ada pintu rumah terbuka. Aku nyelonong ke sana.

Baca juga: Boneka Kucing – Cerpen Ryan Rachman (Suara Merdeka, 06 Januari 2019)

“Ya, Tuhan!” seorang wanita membuka bibir begitu aku memasuki pintu rumahnya.

“Dikejar aparat!” tersengal-sengal aku menjelaskan.

Wanita itu langsung bergerak, menutup pintu. Lalu berkata tegas, “Buka sepatumu. Lepaskan bajumu!”

“Apa?!” aku tidak paham perintahnya.

“Ayo, cepat. Jangan terlambat!”

Kuikuti perintahnya. Kucopot sepatu. Kulepas baju. Ia kemudian mendekapku. Bersandar di tembok, ia berseru, “Peluk aku! Dekap aku!” Naluriah aku patuhi ajakannya.

Pintu didobrak. “Ketangkap kau!” suara dari mulut aparat keamanan terdengar.

Baca juga: Pohon Berbisik – Cerpen Ken Hanggara (Suara Merdeka, 23 Desember 2018)

“Aaahh!” dia berseru. Masih tetap mendekapku. Hanya matanya tajam menatap si aparat keamanan.

“Maaf, maaf,” aparat itu menurunkan pentungan. Menutup pintu pelan. Lalu terdengar teriakan, “Bukan! Bukan cecenguk itu!” Derap-derap sepatu lars meninggalkan rumah, hilang di kelokan jalan.

“Aman,” katanya. Lalu ia melepas dekapan. Ia meninggalkan aku yang masih terpaku di tempat. Mengambil segelas air putih, “Minumlah.”

Kuteguk air putih itu. Kesadaran hinggap dalam logikaku. Kemudian aku tahu, dia Maria Saraswati. Berasal dari Surabaya. Ambil fakultas psikologi di kampus yang sama denganku, UGM. Kami beda fakultas. Aku di ekonomi jurusan manajemen.

Arsip Cerpen di Indonesia