Solituda

SUDAH berselang 3 tahun saat sadar: menemukan diri di rongga tanah, celah kubur. Aku panik. Tangan terulur mengorek tebing tanah yang menabir. Sukar sekali—itu tanah padas, yang masif, atau batu yang melapuk—, sebelum sadar bahwa aku ada dalam rongga, dengan dinding tanah padat, dengan papan yang hancur lapuk, dan ada celah di antara tanah padat dengan tanah galian yang dipadatkan. Aku menelusup, dan pelan ke luar, bagaikan asap rokok, yang disebul seusai diisap dan mematangkan paru, dan ke luar lewat hidung. Ke luar dari lahat—dan tiap saat aku bisa berada di luar kubur. Membubung atas kemboja, menyelidik ada di mana. Menerawang. Pergi ke mana mau—terutama stasiun.

Baca juga: Boneka Sinterklas – Cerpen Agus Salim (Kedaulatan Rakyat, 23 Desember 2018)

Aku menempel di gerbong kereta arah B. Menumpang untuk pulang kampung, dan tersadar ketika menelusuri kampung—kenangan membuat perih, karena semua ada di luar, menyelinap ke balik diding kaca, tempat aku diisolasi. Sendiri. Balik—kini, dengan menghentak, merapung dan berkepak arah matahari terbit, dan (lewat) tengah malam masuk ke rongga kubur. Tercenung. Sepi. Ke luar dan merapung lagi—menebal dalam kabut. Tahu, ada yang tak lampias, ada yang tak bisa dituntaskan—itu rasa terlanjur, ketertinggalan, kesadaran bahwa segala telah berlalu dan ini kini sudah bukan giliranku. Itukah arti kematian? Kenapa aku terus rindu Ayah dan Ibu—meski tahu, bahwa mereka ada dalam dimensi lain, karenanya kami tak akan bisa bertemu—? Lantas mengerti: dulu aku berniat pulang, karena rindu, dan ingin sekali lagi (sesaat) berkumpul dengan mereka. Dulu.

***

KERETA anjlok. Aku tersuruk. Kini—meski kapan saja bisa pergi ke B—, semua sudah telat: Ayah dan Ibu telah masuk rongga kubur—mengisi kubus waktu yang eksklusif: bisa melihat segala, tapi tak tergabung. Soliter—sediri. Sepi. ❑- c

 

7-8/1/2019

Beni Setia, pengarang tinggal di Caruban.

Arsip Cerpen di Indonesia