Beau Memilih Diam

“Setiap hari selama lima belas menit, Beau selalu datang. Dia menatap wajah nenek itu dengan hangat, menyentuh tangannya dan duduk di sampingnya. Mereka tidak berbicara apa-apa, dan hanya diam. Sampai suatu waktu nenek itu mengusap kepala Beau, membalas tatapannya dengan lembut, tersenyum dan memeluk Beau dengan hangat. Mulai saat itu si nenek berubah. Ia kembali berkumpul dengan keluarganya, saling mencintai sebagaimana seharusnya,” aku mengakhiri ceritaku.

“Mulianya orang itu. Aku terkesan dan ingin mencoba,” seru Ubay.

“Oh, dia bukan manusia, tapi seekor anjing.”

Kami tertawa. Setidaknya cerita Beau membuat temanku itu merasa bahwa tak ada perlunya merawat pertengkaran.

“Kalau dengan cara diam Beau bisa meredakan hati yang lagi amarah dan benci, kenapa kita justru malah banyak bacot, ya?” kata Ubay sebelum menutup teleponnya.

 

Yogyakarta, 2019

Salman Rusydie Anwar, staf pengasuh Pondok Mahasiswa Hasyim Asy’arie dan pengelola Lembaga Kutub Yogyakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia