Percakapan Sandal

“Dan, ketika aku mulai menua, Sumi tetap sayang. Ia merawatku dengan hati-hati sampai aku benar-benar tidak mampu diajak jalan. Ia lama menyimpanku sebelum kemudian ia menghantarku ke sini. Aku sangat sedih. Aku tahu ia masih membutuhkanku dan suaminya, Sukri belum bisa membelikan yang baru.”

“Sungguh mujur nasibmu, Mel. Seandainya seandainya aku bisa terlahir kembali aku hanya ingin seperti kamu, menjadi sandal jepit saja.”

“Jangan berkata begitu, semua sudah membawa takdirnya sendiri-sendiri. Mari kita menatap ke depan saja….”

“Aku sudah tamat. Tidak ada masa depan bagiku!”

“Tidak. Kita selalu punya masa depan…”

“Aku tak yakin…”

***

Lusanya Meli terbangun tiba-tiba. Ia terkejut oleh langkah tergesa dan teriakan gembira. Meli tersenyum saat tahu kalau yang bikin gaduh adalah Daki, bocah yang memang saban hari datang ke situ untuk membantu neneknya memulung. Meli kenal betul bocah itu karena dia adalah cucu Sumi.

“Nek, aku menemukan sandal kulit,” teriak Daki sembari lari ke arah neneknya yang sedang berjongkok tak jauh dari tempat ia menemukan sandal. “Masih bagus, kan, Nek? Cuma rusak sedikit.” Ia menyodorkan sandal itu pada si nenek.

“Iya, sudah sana bawa pulang, biar yang rusak dibetulkan Kakek lalu dijual, pasti laku.”

Daki pun berlari membawa sandal itu pulang.

Meli tersenyum bahagia ketika tahu sandal yang dibawa bocah belasan tahun yang tak lagi sekolah itu tak lain adalah Pakalola. Dia senang sahabatnya itu masih bisa menemukan masa depannya kembali. Masa depan yang, semoga, lebih indah dari masa lalunya, doanya.

 

Moh Romadlon, penulis lepas, pengurus di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Sumber Ilmu, Desa Rantewringin, Kecamatan Buluspesantren Kebumen.

Arsip Cerpen di Indonesia