Ikan

Ikan sapu-sapu ayah selalu mengirim pertanda sebelum terjadi peristiwa-peristiwa besar dan terus begitu hingga hari itu tiba. Hari yang kelak begitu sulit kulupakan. Hari itu, aku mengajak anakku main ke rumah kakek neneknya, rumah masa kecilku. Semua berjalan normal belaka. Anakku yang memang dekat ayahku, kakeknya, bermain sepanjang hari di kebun belakang rumah. Mereka bermain sampai azan zuhur berkumandang dari musala samping rumah. Usai sembahyang dan makan siang, seperti yang sudah-sudah, ayahku tidur siang.

Aku sedang duduk-duduk di teras rumah sambil membaca berita politik ketika kudengar suara benda dipukul bertubi-tubi dari dalam rumah. Didorong rasa penasaran aku mencari muasal suara itu. Alangkah terperanjatnya aku ketika kulihat anakku sedang memukul ikan sapu-sapu ayah dengan gagang sapu. Entah bagaimana, ikan sapu-sapu itu telah terkapar di lantai.

“Ikan lele, ikan lele,” celoteh anakku. Aku ingat, dua hari lalu aku mengajak anakku ke pasar membeli ikan lele. Mungkin ia memperhatikan bagaimana penjual lele mematikan lele satu persatu dengan palu.

Badanku mendadak dingin ketika kulihat ayah sudah berdiri di depan pintu kamar dengan muka datar menyaksikan anakku menghabisi ikan sapu-sapu miliknya. Ayah bergumam: tak lama lagi akan ada kerusuhan besar di ibu kota karena perbedaan pilihan politik.

Aku kehilangan kata. Tak tahu lagi harus bagaimana.

 

Abraham Zakky Zulhazmi. Penulis adalah pengajar di IAIN Surakarta.

Arsip Cerpen di Indonesia