“Andaikan hamba harus meninggal dalam peristiwa ini, Ya allah. Tak mengapa. Tapi tolong, selamatkan adik dan ibu hamba,” doaku dalam hati, di saat badanku terombang ambing terseret air.
Di antara tenaga yang masih tersisa, aku terus berjuang. Meskipun tangan dan kaki ini merasakan sakit yang luar biasa karena harus membentur benda-benda lain yang turut berhampuran di atas air bah. Aku berharap ada keajaiban yang datang menyelamatkan.
***
Entah berapa jauh tubuhku terseret arus ganas yang menyita waktu kurang lebih sepuluh jam tesebut. Ketika aku tersadar, samar-samar aku mendengar suara orang memanggilku.
“Mba,, Mba …Anda mendengar suara kami?” Sayup-sayup kudengar suara laki-laki.
“Aku di mana?” tanyaku dengan kebingunan.
“Apakah ini alam kematian?” batinku lirih.
Seluruh badanku terasa sakit, dan sulit digerakkan. Kaki dan tanganku terdapat banyak luka barutan benda-benda tajam. Mungkin saja ada paku yang menganga dan akar-akar tajam di antara puing-puing yang kulalui. Sebab, yang aku ingat, banyak pohon tumbang, dan rumah-rumah belum permanen yang roboh.
“Mba ada di tenda pengungsian,” jawab seorang laki-laki yang berdiri di sampingku.
Saat itu aku baru sadar, sebuah gelombang setinggi lima meter telah menyapu rumah dan seluruh penghuni Desa way Muli, Lampung Selatan. Kampung nelayan tempatku dibesarkan. Aku pun terombang-ambing tanpa tahu seberapa jarak yang telah kulalui. Anganku mengingat sesuatu.
“Ahmad, Ibu, di mana mereka?” tanyaku terperanjat.
“Mba kami temukan terjepit tak sadarkan diri, di antara himpitan runtuhnya rumah dan pohon-pohon yang tumbang. Untuk keluarga Mba yang lain, nanti bisa kita cari perlahan-lahan.”
Aku tidak tenang sebelum menemukan Ahmad dan ibu yang saat gelombang tinggi itu datang mereka tengah di luar rumah. Apa yang kami miliki telah habis tak tersisa, jangan sampai aku kehilangan mereka berdua. Batinku sakit, sedih, hampa, tak tahu harus berbuat apa. Bahkan, air mata pun sudah tidak dapat keluar. Segala rasa perih tercurah saatku tertelan pusara air yang banyak merenggut ratusan nyawa manusia dan menyisakan kesedihan. Antara hidup dan mati, hingga membawaku sampai ke tempat ini.
“Ibu … Ahmad, kalian di mana?”
***