“Cepat keluar!” Algojo itu membentak.
“Tapi, tapi, saya hanya penulis cerita.”
“Tidak ada tapi-tapi! Sekarang giliranmu.” Ia menjambak rambut dan menyeret kepalaku begitu saja. Aku terpaksa merangkak sambil tersandung-sandung. Lantai ini ternyata begitu kotor dan lembap, serta dipenuhi pecahan kayu dan paku. Meskipun aku terbiasa mendeskripsikan sesuatu, ternyata mengalaminya langsung terasa lebih nyata dari deskripsi paling detail sekalipun.
“Duduk!”
Aku kemudian dipaksa duduk di kursi yang ditempati lelaki tadi.
“Apa salah saya? Saya cuma penulis cerita. Tidak mungkin seorang penulis cerita dieksekusi di dalam cerita buatannya sendiri.”
Petugas itu tertawa, kemudian satu tamparan keras mendarat di wajahku. Sepertinya aku mimisan.
“Tidak ada yang tidak mungkin, Bung.” Mereka lantas melilitkan temali di badanku. Praktis, tidak ada ruang gerak sama sekali. ’
“Sekarang katakan, kau juga menulis untuk melawan kami, mengungkap kejahatan kami lewat cerita-cerita fiksi, ya kan?”
“Ti… tidak….” Aku mulai gemetar. Huruf-huruf seperti raib dan bahasa seperti
sesuatu yang asing dalam ingatan.
“Jawab yang jelas!”
“Tidak… tidak…. Saya biasanya hanya menulis tentang taman, senja….”
“Ah. Bohong. Pasti kamu berpikir fiksi tidak pernah bisa dibungkam.”
“Sumpah, saya tidak ada urusan dengan kasus-kasus besar seperti kerusuhan. Saya cuma menulis untuk mencari uang…. Cerita-cerita saya justru sering dianggap klise karena tidak pernah membawakan tema berat seperti PKI.”
“Haha! Bohong terus dia! Kalau memang begitu, untuk apa dia sembunyi di lemari kalau bukan memata-matai kami?”