Senja itu Membunuh Kalian

“Aku tidak bisa menolak pesonamu. Lelaki yang menjaga senja setiap hari tidak bisa kutolak. Itu adalah cintaku,” ungkapnya.

Seketika kau melamarnya. Kau bilang, tidak ingin lama-lama melajang. Perempuan yang mencintaimu setulus hati tidak boleh dibiarkan tanpa ikatan yang jelas. Itu katamu. Lamaran itu tidak mungkin ditolak karena kau melamarnya di bawah guyuran senja.

“Ini lamaran yang paling kuidamkan,” ucapnya terharu.

Lantas keesokan harinya, kau menemui orang tuanya. Meminta izin untuk menikahi putrinya. Lamaran berjalan lancar. Tanggal pernikahan pun ditentukan hari itu juga. Satu bulan. Itu waktu untuk menyiapkan pernikahan.

Seharusnya ini kisah cinta yang berakhir bahagia. Akan tetapi, Tuhan itu aneh. Tuhan itu menjengkelkan. Bagaimana bisa sepasang kekasih yang saling mencintai harus dipisahkan? Ini skenario yang kejam. Inilah takdir di dunia ini. Dia meninggal ditelan oleh senja dan tercabik-cabik oleh kereta api.

Lantas kau berakhir dengan kesepian yang semakin menyiksa. Kau tetap harus melanjutkan hidup. Bekerja sebagai penjaga jalan lintasan kereta api. Berjumpa dengan senja dan kereta api yang telah merenggutnya. Begitulah akhir dari cerita pendek ini dan senja yang tidak melulu soal romantisme.

Arsip Cerpen di Indonesia