Wijil dan Anjing Siluman

“Anjing itu bisa datang kapan saja, tepat di hadapan kita,” ujar Tomo Kecrek, warga yang dusunnya saat itu sedang gawat-gawatnya. Sebab, dari dusunnyalah cerita tentang anjing itu berembus.

“Mereka sepertinya bisa datang dan pergi dengan cara menghilang,” timpal Pardi Doyok.

“Atau mereka memang hantu?” sahut Tarjo Koplo yang pernah mendengar langsung teriakan orang yang diseret oleh anjing-anjing itu, tepat di depan rumahnya. Semenjak kejadian itu dia menjadi sangat takut, sekaligus menyesal. Sebab saat peristiwa malang itu dia merasa tidak berkutik. Saat kejadian itu, keluhnya, untuk mengintip saja seluruh badannya begitu kaku, apalagi harus mengahadang dan menghentikan bak pahlawan.

Kisah-kisah itu, kalimat-kalimat itu, datang membabi buta, terus berhamburan di mana pun, di setiap atap rumah siapa pun. Mereka saling bercerita, menduga-duga, saling melempar argumen satu dengan yang lain. Hingga kisah tentang anjing-anjing siluman menyelinap kemana pun.

***

Kisah tentang anjing-anjing siluman itu tercium pula di dusunku lewat mulut Tarjo Koplo. Banyak orang bertanya-tanya tentang anjing itu. Kengerian anjing-anjing itu begitu runcing. Setiap cerita yang berembus seperti bertaring, sehingga siapa saja yang mendengarnya akan ketakutan, bahkan kaku di tempat.

Sejak kabar itu berembus, aku dan warga lain merasa was-was dan tidak tenteram. Setiap malam meski dusun terasa nyenyet, tapi sejatinya tidak ada yang benarbenar terlelap.

Malam di dusun begitu sepi dengan dingin yang menyengat. Dini hari aku masih terjaga. Entah mengapa perasaanku justru tertuju pada cerita Tarjo Koplo tempo hari. Sebab jarak antara dusun Tarjo dengan dusunku tidak begitu jauh. Aku merasa harus bersiap dengan kenyataan yang akan terjadi kapan pun. Saat ini kami merasa tidak punya pilihan lagi selain lebih berhati-hati, menutup pintu dan jendela rapat-rapat, serta menghindari segala aktivitas di malam hari. Jika tidak, nyawa taruhannya.

Ketegangan itu seolah memuncak di benakku. Saat tiba di tengah malam, aku merasa ada yang tidak beres. Sebab, dalam lamat-lamat risik malam, aku mendengar suara-suara ribut. Semakin lama suara itu makin keras dan jelas. Ada langkah kaki beradu dengan teriakan kalut seseorang. Aku keluar kamar, mengintip dari jendela ruang tamu. Namun sayang, tak satu pun gerak-gerik bisa kulihat kecuali pekatnya malam yang begitu kelam. Hanya terdengar teriakan meluncur, kemudian bergema di langit. Setelah beberapa saat teriakan itu semakin lirih, semakin menjauh. Diikuti langkah-langkah kaki yang ikut lenyap ditelan jarak. Membawa lengking parau seseorang yang entah siapa.

Arsip Cerpen di Indonesia