“Mari masuk sebentar. Ayo kita minum teh bersama. Kau pasti kedinginan kan?” pintaku pada lelaki itu.
Ia menuruti ajakanku, dan kami berbincang cukup lama di dalam kamar sambil menikmati seduhan teh hijau yang hangat. Lelaki pengantar paket asal Indonesia itu bernama Bayu. Ia bekerja sebagai kurir di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang sembari menamatkan studi S-2-nya di University of Tokyo.
Bak kejatuhan durian runtuh, bertemu dengan orang sebangsa di negeri asing adalah satu hal yang menggembirakan. Sebab, dengan begitu kami bisa sedikit menuntaskan kerinduan terhadap kampung halaman dengan berbagi cerita mengenai kehidupan di tanah rahim.
Kehadiran Bayu-san mengingatkanku pada Yoshida, putra semata wayangku yang telah jauh meninggalkanku. Bersama gadis bermata biru yang dipinangnya tujuh tahun silam, ia pergi meninggalkan Jepang dan tinggal di negeri istrinya berasal.
Awalnya tidak ada masalah mengenai keputusan Yoshida untuk tinggal di benua biru. Namun, sepeninggal suamiku, aku benar-benar merasa kesepian. Mungkin ini yang dirasakan ibu dan bapak ketika dulu aku memutuskan tinggal di Jepang dan berpindah kewarganegaraan.
Hari demi hari berganti. Menjumpai masa tua membuatku menjadi sangat perasa. Aku kian merasa kesepian dan dilupakan oleh orang-orang tersayang. Bukan maut yang kutakuti dalam hidupku ini yang menjelang malam. Namun, kesedihan yang membunuh jiwaku akibat terlalu lama hidup dirundung sepi. Kini tiada lagi asa selain dapat berpulang dengan tenang. Apa mungkin ini balasan Tuhan atas perlakuanku terhadap ibu dan bapak dahulu. Taizan, lelaki sandaran hidupku telah berpulang, dan anak semata wayangku telah lama meninggalkanku.
Polandia terasa begitu mustahil untuk kujangkau. Meski kerinduanku terhadap Yoshida kerap memuncak, aku tetap berusaha berdamai dengan keadaan. Aku cukup tahu diri bahwa tidaklah mungkin bagi seorang wanita renta sepertiku ini menempuh perjalanan yang begitu jauh. Lagi pula, andai saja memang ada biaya untuk membeli tiket pesawat, aku akan memilih untuk pulang ke Indonesia dibandingkan menyusul mereka di sana.
Kesibukan sebagai seorang wartawan membuat Yoshida tak ada waktu meski sebatas untuk menanyakan keadaanku. Ponsel yang tergeletak di atas meja kamar sudah sangat lama tak berdering. Tidak ada lagi kabar darinya. Acap kali aku bertekad untuk menghubunginya, tapi segera kuurungkan. Aku takut mengganggunya, atau bahkan membuatnya marah karena menelepon di waktu yang tidak tepat.
Sekuat tenaga kusingkirkan kesedihan akibat rundungan sepi. Meskipun terkadang ia hadir secara tiba-tiba, dan aku tak dapat menolaknya.
***