“Mestinya kamu bacakan lagi puisi yang pernah kamu tulis pada masa kuliah saat kamu suka demo: Ke jalan mana lagi kita demonstrasi bila yang mendemo diri sendiri?! Itu yang kamu butuhkan sekarang, mendemo diri kamu sendiri!”
Saya suka berbincang dengan siapa saja, termasuk dengan kenalan baru. Tapi dengan orang ini, diam-diam saya mulai jengkel juga. Dia sepertinya tidak sadar apa yang diomongkannya. Mungkin dia sendiri sebenarnya yang brengsek seperti itu! Saya ingin mendebatnya. Tapi sebelum saya bicara, murotal Qur’an dibacakan dari masjid di seberang taman kota.
“Ok, deh. Sepertinya sudah mau jumatan lagi. Saya pergi dulu, saya jumatan di rumah. Assalamualaikum.”
Pulang jumatan, di depan masjid, saya melihat istri saya sedang menunggu.
“Maafkan saya sudah mengikuti Mas sejak pagi. Saya heran waktu Pak Adri bilang Akang tidak pernah masuk kerja setiap Jumat pagi. Saya pikir Akang menemui… istri siri.”
Saya tersenyum kecut.
“Tapi Mas jangan seperti yang bicara sendiri, senyum-senyum sendiri. Mas seperti yang tidak waras! Tadi, di taman kota.”
Saya diam beberapa saat, lalu tersenyum dan bilang: “Justru tadi itu saat-saat Mas merasa waras.”
Yus R. Ismail, menulis cerpen, novel dan puisi, dalam bahasa Indonesia dan Sunda. Buku terbarunya In the Small Hours of the Night terjemahan C.W. Watson (Lontar, 2018).