Pelajaran Buat Ari

Ari tidak menjawab. Dia hanya tertawa dan cepat-cepat lari keluar, takut dimarahi kakaknya.

“Ariiii… awas kamu…!” teriak Kak Mira dongkol.

Sore hari Ari akan bermain bola, tapi ia lupa di mana menyimpan bolanya.

“Bu lihat bola Ari?” tanyanya pada ibu.

“Tidak… biasanya kamu simpan di mana?” ibu balik bertanya.

“Coba cari di gudang,” sambungnya.

“Makanya kalau barang yang masih dipakai simpan dengan baik, jangan sembarangan menyimpannya. Giliran mau dipakai bingung mencarinya,” celetuk Kak Mira.

Ari berlari ke gudang. Setiap barang yang ada di sana disingkapnya, siapa tahu bolanya tersembunyi di sana. Tak terasa kakinya menginjak sesuatu yang lunak. Tiba-tiba, sreeeet… seekor ular hitam sudah berdiri tegak hendak mematuknya.

Ari terhenyak kaget. Ia mundur beberapa langkah dan langsung lari terbirit-birit sambil berteriak ketakutan. Ia memberi tahu ayahnya. Dengan cepat ayah bisa membunuh ular itu.

“Alhamdulillah, kamu selamat Ari. Ular itu sangat berbisa,” kata ayah sambil mengelus kepala Ari. Sementara Ari hanya termenung. Ia merasa bersalah kepada kakaknya karena ia dengan sengaja membuat kakaknya ketakutan. Sekarang, ia sendiri yang merasakan ketakutannya melihat ular dan bahkan nyaris dipatuknya.

“Maafkan, aku Kak. Kini aku dapat pelajaran, siapa yang berbuat kejahatan, maka ia sendiri yang akan mendapatkan akibatnya. Sekali lagi, kak maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengulanginya lagi,” ucap Ari sambil memeluk kakaknya. ***

Shehira Masdika Ramlan. Kelas IV-B MI Assalam Sumedang, Jalan Serma Muhtar No 50 Sumedang.

Arsip Cerpen di Indonesia