Tim Sukses

Sampai di rumah, Irma mengingat-ingat lagi ucapan orang banyak. Bu Indri memang baik, bahkan sangat baik. Hari belum lama jadi tim suksesnya namun sudah sering diberi uang.

“Itu karena suamimu orangnya mobile,” jelas Dian, sahabatnya waktu ia curhat akan keresahan yang menyerangnya tiba-tiba.

“Mas Hari pandai bicara dan bisa memengaruhi banyak orang. Makanya Bu Indri percaya,” jelas Irma.

“Yap.. itu! Lalu, apa yang kau ragukan?”

Dian menatapnya. Irma hanya mendesah. Sudah banyak kebaikan Bu Indri. Mengubah perekonomiannya. Namun jika orang-orang mulai menggunjingkan kecantikan Bu Indri, Irma resah. Hari, suaminya, lelaki yang berwajah tampan dengan tubuh tinggi tegap. Usianya sepuluh tahun lebih muda dari Bu Indri. Namun bukan tak mungkin jika keduanya saling jatuh hati, mengingat Bu Indri sudah lima tahun tak bersuami.

Mungkin perasaan Irma berlebihan namun itu bisa masuk akal. Banyak yang menjadi tim sukses Bu Indri, namun kebaikan Bu Indri pada suaminya melebihi kapasitas. Apalagi Hari tim sukses yang baru.

“Sudahlah, jangan terlalu dihantui…” Dian membaca apa yang dipikirkan sahabatnya. “Seharusnya kau bersyukur… suamimu menjadi kepercayaan orang yang baik…”

Malam itu Irma diliputi perasaan gelisah. Sudah pukul 21.00 namun Hari belum kembali ke rumah dan nomor ponselnya tak bisa dihubungi.

Setelah pukul 23.00 tak juga datang, Irma nekat menyusul ke vila milik Bu Indri yang selama ini dipakai untuk berkumpul para tim sukses. Namun yang dicari tidak ada. Sepi. Ia hanya bertemu Bu Indri yang menghampirinya keluar saat dirinya celingukan tak tentu tujuan.

Irma pergi dengan perasan tenang karena kecurigaan selama ini hilang setelah menerima sikap Bu Indri yang ramah.

Arsip Cerpen di Indonesia