Dendam Pohon-Pohon

“Kau memang tidak pernah berubah, sejak dulu selalu seperti itu. Tapi apakah kau tidak benci atau sekadar capek menahan tubuhku yang seharusnya sudah merendam pemukiman manusia itu?”

“Tidak. Tidak sama sekali. Malah aku merasa senang bisa menjalankan tugasku dengan baik. Karena hanya dengan ini aku mengabdi kepada Tuhanku.”

Si Air pergi begitu saja. Ia sadar, percuma berdebat dengan Si Pohon karena akhirnya akan tetap sama, ia kalah dan Si Pohon tidak akan pernah mengizinkannya membalas dendam.

Hari demi hari berlalu. Pohon-pohon di kota semakin dipenuhi tusukan paku di tubuhnya. Pelbagai macam wajah manusia dengan posenya masing-masing menempel pada tubuh mereka. Lengkap dengan biodata singkat dan visi misi sekaligus motto hidup masing-masing. Sedangkan di hutan, pohon-pohon semakin sedikit. Mereka perlahan namun pasti ditebang oleh manusia setiap harinya. Mereka ingin melawan tapi tidak bisa, karena mereka diciptakan dari kebaikan dan hanya bisa memberikan kebaikan, bukan balas dendam.

Siang itu Si Air mendapat kabar dari burung elang, katanya, Si Pohon sedang disembelih oleh manusia. Mendapat kabar itu, Si Air semakin marah kepada manusia. Cuaca yang sedang panas membuat Si Air dengan mudah menguapkan tubuhnya ke langit. Dan dengan cepat berubah menjadi awan berwarna kelabu yang siap menurunkan hujan. Setengah tubuh yang ia uapkan berubah menjadi hujan yang tidak berhenti selama tiga hari tiga malam.

Si Air meluapkan kemarahannya kepada manusia. Tubuhnya ia alirkan ke permukiman demi membalaskan dendam sahabatnya. Angin selaku teman baik hujan membantunya membalaskan dendam. Ia mengembuskan tubuhnya sekencang mungkin. Pohon-pohon di kota menumbangkan tubuhnya sendiri ke jalanan. Mereka tidak terima nenek moyangnya disembelih oleh manusia. Kekacauan seketika terjadi di kota itu. Gambar-gambar wajah manusia pun beterbangan digasak oleh angin lalu ditenggelamkan ke dalam tubuh Si Air yang meluap. ❑

 

A Habib. Lahir di Majalengka tahun 2000. Mahasiswa Ilmu Hadis UAD. Berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta dan Teater JAB. Tulisan-tulisannya sudah terbit di beberapa media, daring maupun luring, lokal maupun nasional.

Arsip Cerpen di Indonesia