Lukisan Berbisik

Saya turun dari tempat tidur. Kaki melangkah perlahan mendekati lukisan. Pemuda yang di perahu mengulurkan tangannya. “Mari masuk ke sini, kita bersama menatap indahnya dunia lukisan, dunia angan-angan kita,” katanya.

Saya pun mengulurkan tangan. Ada perasaan penasaran ingin berlayar di telaga lukisan. Tetapi sebelum tangannya menyentuh tangan saya, saya terkejut dengan suara azan begitu keras. Semakin terkejut waktu sadar saya sedang berdiri di depan lukisan sambil menjulurkan tangan. Pemuda yang tadi berdiri di perahu tidak terlihat lagi. Lukisan itu hanya pemandangan telaga, perahu di tengahnya, dua orang yang duduk di perahu sangat tidak jelas karena kecil.

Saya cepat beristigfar. HP saya matikan karena takut membangunkan seisi rumah. Pukul tiga malam. Untungnya ada alarm yang biasa berbunyi kalau saya mau salat malam. Saya lalu ke kamar mandi untuk berwudu. Sejadah dan mukena sudah disiapkan oleh Wak Nining di lemari. Setelah salat Isya saya tidak bisa tidur lagi meski berusaha untuk memejamkan mata. Perasaan saya begitu mencekam setiap menatap lukisan.

***

WAK Nining terkejut waktu saya menceritakan peristiwa semalam. Waktu itu juga A Herry disuruh menurunkan lukisan, lalu dibawa entah ke mana.

“Apa yang dialami oleh Asih itu bukan mimpi. Yang mengajak berlayar itu betul dari dalam lukisan,” kata Wak Nining waktu bicara berdua. ”Orang sini percaya, di dalam lukisan itu ada roh yang rindu apa yang dilukisnya. Roh di dalam lukisan itu suka mengajak siapa yang dirinduinya masuk ke dalam lukisan.”

“Padahal kalau saya ikut saja masuk ke dalam lukisan ya, Wak, nanti jadi pengalaman yang luar biasa,” kata saya sambil tersenyum.

“Huss…! Bicara jangan sembarangan. Tong sompral!” Wak Nining terkejut. “Siapa saja yang masuk ke dalam lukisan, tidak bisa balik lagi.”

Wak Nining lalu menceritakan, lukisan itu dibuat oleh Ruud Van Der Sar Wilhelm, adik Uwak Wilhelm. Lukisan telaga itu bukan di Giethoorn, tetapi di Bandung sekitar tahun delapan puluhan. Dilukisnya iya di Giethoorn, tetapi waktu itu Ruud Van Der Sar Wilhelm baru pulang setelah patah hati oleh mojang Bandung.

“Waktu menggambar lukisan itu, Ruud tidak makan tidak minum. Seperti yang berpuasa,” kata Wak Nining. “Suatu hari, di vila tempat melukisnya, Ruud menghilang. Sampai sekarang tidak terlacak ke mana Ruud pergi. Tetapi menurut orang yang tahu banyak tentang lukisan, Ruud masuk ke dalam lukisannya.”

Arsip Cerpen di Indonesia