Memungut Rintik Hujan

Sementara di sini aku sedang bercakap-cakap, keadaan di luar sebenarnya semakin kacau. Orang-orang terbelah menjadi dua kelompok yang berbeda: antara yang percaya dan tidak. Satu-satunya hal yang sama dari mereka hanyalah: sama-sama kukuh; sama-sama menyebalkan. Peneliti hujan yang berada pada kelompok penolak berbondong-bondong mengeluarkan kajian bahwa hujan memang hanya hujan, satu-satunya yang bisa memungut hanya tangan dingin penyair, dalam bentuk puisi, kata mereka. Para tokoh yang percaya pun tak mau kalah, mereka juga mengeluarkan kajian bahwa sangat mungkin rintik hujan bisa dipungut oleh tangan. Kekacauan semakin menjadi ketika cerita itu semakin meluas: menyebabkan orangorang saling curiga dan debat hanyalah omong kosong hingga berbusa. Hingga puncaknya, mereka sama-sama lupa apa yang bisa dibikin oleh hujan …

Kadang, kekacauan memang bisa bermula dari sesuatu yang sederhana. Apakah ini akan berlanjut hingga musim hujan yang akan datang? ❑

 

Haryo Pamungkas, lahir di Jember. Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNEJ. Cerpennya telah dimuat di berbagai media cetak dan daring.

Arsip Cerpen di Indonesia