“Kamu tau gak, senja itu unik,” ucap Radit yang melihat wajah merah pipiku.
“Unik gimana?”
“Iya unik, dia indah tapi hanya sesaat, jingganya membuat siapa pun yang menatap dan menikmatinya menjadi senang. Dia tenggelam tapi dia selalu menjanjikan untuk datang lagi. Bahkan setelah hujan di siang hari. Dia selalu datang dengan keindahan baru dengan momen yang berbeda.”
Aku terdiam, menatap Radit dengan penuh arti. Di balik kulit coklatnya, ternyata ada keromantisan yang tersembunyi.
***
Tahun berlalu, dan bulan berganti. Sekarang aku di sini, sendiri menikmati senja ini, tanpamu. Iya tanpamu. Dan tanpa sadar, air mataku mengalir begitu saja.
Haii, lelaki penyuka senja.
Kamu di mana?
Iya kamu, senjaku.
Aku rindu. (*)
Ifrah Amelin. Mahasiswa Politeknik Negeri Padang.