Sejarah Nyeri

Saat ibu mengatakan bahwa perempuan yang melahirkanku pernah beberapa kali ingin melenyapkanku pada saat aku masih di rahimnya, spontan ada keinginan di hatiku untuk mencari perempuan itu dan jika telah bertemu, aku akan mengatainya dengan sumpah serapah. Kupikir hal itu bisa menjadi pelampiasan dendamku, tetapi ibu buru-buru melarangku. Lantas ibu menambahkan kabar yang baru, dengan mengatakan bahwa kisah kenyerian tentang diriku belum selesai. Ibu berpesan, aku diminta bersabar sampai semua cerita tentang diriku lunas dikisahkan. Aku yakin ibu mulai risau saat mengetahui di dalam dadaku tumbuh dendam, hingga ibu merasa perlu segera menuntaskan cerita tentang diriku. Nyatanya ibu tak mau menempuh risiko untuk menyimpan lama-lama kisah jati diri perempuan itu. Dengan begitu, paling tidak aku akan tahu orang yang melahirkanku ini perempuan macam apa. Kini ibu telah siap menceritakan kisah selengkapnya.

Begitu ibu selesai mengisahkan seluruh peristiwanya, mendadak ada rasa nyeri yang menusuk-nusuk dadaku. Nyeri ini berbeda dengan rasa nyeri sebelumnya. Bukan lagi tentang keinginan untuk membalas dendam, tetapi lebih mengarah ke rasa sakit bahwa ternyata keberadaanku adalah benih dari seorang bajingan yang tega merenggut keperawanan perempuan itu pada saat geger Mei 1998 di Solo. Ontran-ontran Solo itu meletus ketika perempuan itu masih berada di luar rumah. Pada saat itu ibu menjadi pembatu di rumahnya. Seisi rumah risau karena perempuan itu belum juga pulang. Begitu ada kabar, ternyata perempuan itu berada di rumah sakit, yang sebelumnya ditemukan di sebuah gudang dalam keadaan tak sadar diri dengan baju penuh koyak. Perempuan itu menjadi korban perkosaan para perusuh.

Sejenak aku tak bisa membayangkan bagaimana nyerinya hati perempuan itu, terlebih perasaannya ketika selama 9 bulan mengandung diriku. Mengandung benih dari sebuah kebiadaban. Di puncak kegelisahanku ini, aku sampai menyesalkan, mengapa perempuan itu dulu tidak berani nekat membunuhku saja. Aku ikhlas jika perempuan itu melakukannya. Sekarang aku sangat memaklumi tentang cerita ibu bahwa pernah beberapa kali perempuan itu ingin melenyapkanku. Kini tidak ada lagi sedikit pun keinginanku untuk menemui perempuan itu, bukan karena aku membencinya, tetapi aku tidak tega membuatnya merana kembali jika tiba-tiba melihat diriku. Menurutku jika aku nekat menemuinya, kehadiranku justru akan memunculkan lagi rasa nyeri itu, yang mungkin sekarang mulai bisa dilupakan. Aku meyakini, sakit perempuan itu dulu bertumpuk-tumpuk, jiwa dan raganya sengsara, terlebih menyadari di dalam rahimnya tumbuh benih dari seorang bangsat.

Arsip Cerpen di Indonesia