Si Malas

Baiklah. Kali ini Ranggong benarbenar merasa ibunya sedang membawa neraka ke rumahnya. Ia hendak berteriak, “Ibu! Ibu…!” namun takut kedengaran tetangga.

Tak ada kopi, teh pun begitu. Sarapan sama sekali juga gaib. Ranggong sangat murka. Ia menelusuri setiap sudut rumahnya demi mencari sang ibu. Sesekali keluhan beriringan dengan bibirnya, bergoyang-goyang untuk mencari ibunya juga. Jelas ia tak menemukannya dan membuat Ranggong semakin murka saja.

Selagi murka, Ranggong hampir ambruk ke lantai. Ia meraih dinding di dekatnya, agar tubuhnya tetap seimbang. Suara itu menghampiri lagi kesadarannya, Berharaplah terus padaku kau anak dungu! Ranggong merasa ingin mati saja. ia mengeluh pada semua benda yang bisa dijangkau oleh matanya. Mengapa seluruh benda itu seolah menuntut sesuatu kepadanya? Dari mana pula datangnya suara itu?

Berharaplah terus padaku kau anak dungu! Lagi, suara itu menyerang. Kali ini ia sungguh merasa tak berdaya. Dibiarkanlah saja suara itu menjarahnya. Perutnya yang masih lapar dibuat semakin lapar oleh suara itu. Ada semacam tekanan pada ususnya seolah membuat usus itu berubah bentuk.

Ia mencoba melawan suara itu dengan menjerit, “Ibu!”

Jeritan itu tetap di sana menemani Ranggong yang menanti kedatangan ibunya. Tak peduli lagi tetangga mendengar atau tidak.

Sementara jeritan itu menggema di udara, ibunya yang sejak subuh pergi ke pasar membeli sayuran, tergeletak dengan pisau tertancap tepat di jantungnya. Jelas Ranggong tak tahu akan kejadian mengerikan itu ê sebab sang ibu pergi, sedang Ranggong masih nyaman dengan mata tertutup di kasurnya.

Hanya teman sang ibu yang melihat persis bagaimana pisau itu merobek isi dadanya. Sempat berbicara barang sejenak sebelum pisau itu benar-benar masuk, namun ia kehabisan daya mencegah pisau itu. Meski Ia paham betul bagaimana susahnya sang ibu mengurus anak yang tak bisa apapun selain memelas pada ibunya; juga paham penderitaan bertahun-tahun sang ibu. Yang ia tidak paham, mengapa sang ibu tega bunuh diri meski ia telah berusaha mencegahnya sekuat daya yang ia punya.

Hanya memberi makan kambing yang ia bisa. Tiap hari membawa gamal kepada mereka baginya gampang. Yang susah itu memberi makan dirinya sendiri. Ranggong tak pernah menyiapkan kebutuhan pribadinya karena sang ibu tahu segala hal pada urusan tersebut.

Arsip Cerpen di Indonesia