Kakek Jumadi

Kakek Jumadi berjalan menuju warung. Anak kecil itu mengekor di belakang. Di wajahnya masih ada keragu-raguan.

“Ibuku bilang, kakek suka membunuh anak-anak.”

Kakek Jumadi berhenti, lalu menoleh ke belakang. Anak kecil itu juga berhenti.

“Para ibu sering mengarang cerita bila anaknya nakal. Apa ibumu pernah bilang penjual sepatu di pasar meninggal hanya karena kamu minta dibelikan sepatu?”

“Tidak. Tapi ibu pernah bilang penjual baju di pasar meninggal karena makan mie terlalu banyak. Akibatnya, ibu batal membeli baju tentara buatku. Dan aku menjadi takut makan mie banyak-banyak.”

“Sama saja. Penjual baju tentara di pasar bukan hanya satu orang. Ibumu berkata begitu karena tidak ingin kamu memakai baju tentara. Mungkin ibumu ingin kamu jadi dokter.”

Anak kecil itu mematung mencerna perkataan Kakek Jumadi.

“Jadi, kakek tidak benar seorang pembunuh?”

“Bagaimana kakek membunuh dengan tubuh renta begini.” sahut Kakek Jumadi sembari tertawa.

Anak kecil itu mempercepat langkah hingga mereka berjalan berdampingan. Tidak ada lagi rasa takut di wajahnya.

“Namaku Tarjo, Kek!”

“Namamu hampir sama dengan nama anak kakek.”

Mereka duduk bersisian di kursi depan warung. Anak kecil bernama Tarjo asik menjilati permennya. Pemilik warung keluar membawa barang belanjaan Kakek Jumadi. Barang belanjaan itu diletakkan di kursi kosong di sebelah Kakek Jumadi.

“Di mana anak kakek sekarang.”

“Di kota. Ia tidak mau bertemu dengan kakek.”

“Mengapa.”

Tarjo kembali menjilati permennya.

“Kami pernah bertengkar dan saling membenci.”

“Apa anak kakek masih membenci kakek sampai sekarang?”

Kakek Jumadi terdiam.

“Aku dan ibu hampir setiap hari bertengkar karena banyak hal. Aku pikir ibu membenciku. Tapi setelah aku minta maaf, ibu akan tersenyum dan memelukku. Setelah itu, ibu akan memberiku satu cup es krim.”

Arsip Cerpen di Indonesia