Air mataku meleleh. Bertahun-tahun kudambakan anak perempuan, tapi belum dipercaya Allah untuk mengurusnya. Sedangkan ini …? Gadis kecil yang kuanggap anak sendiri, kini mahkotanya telah direnggut.
Pikiranku melesat pada ayat yang dibaca berulang-ulang oleh Fatim tadi.
“Tidak, Sari. Balqis tidak bersalah, sebagaimana Allah berfirman, ‘… tetapi barang siapa terpaksa, bukan karena menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.’”
Pak Lurah nampak menunduk. Bingung harus berbalas budi, dengan konsekuensi kredibilitas sebagai lurah tercoreng, atau berlaku adil tapi dimusuhi Mbah Kadafi.
Sementara itu, Mbah Kadafi masih santai berbagi rokok klobot dengan bapak Balqis. Aku tidak habis pikir dengan kedua lelaki itu. Mereka kira semua masalah bisa diselesaikan dengan uang?
“Santai sajalah, Ibu-ibu. Kalau Balqis sampai hamil, saya akan tanggung jawab.”
Tambah enteng ucapannya sambil menyeruput kopi hitam, yang terang saja semakin membuat ibu-ibu naik pitam. Bahkan ada yang sudah mendekat hendak mencekik. Namun sebelum sempat cekikan itu dilakukan, mata Mbah Kadafi mendelik, mulutnya mengeluarkan busa. Kemudian tubuhnya ambruk bersamaan napas yang berhenti berembus.
Lebih baik kau mati, Biadab! Biar Alim tidak akan pernah memanggilmu Bapak.