Warga kampung menggaris bawahi bahwa pertengakaran itu terjadi lantaran Nima, ibu Sudan tersebut memang sering mengumpat sejak ia mengandung Sudan. Menurut cerita warga kampung, Nima gemar bergosip, menebar kasak-kusuk yang tidak jelas asal muasalnya. Tidak sedikit pun ia mendengar saat orang-orang mengingatkan agar Nima menjaga mulutnya saat hamil, dikhawatirkan sang anak juga akan gemar mengumpat.
Satu lagi cerita yang disimpan rapat-rapat oleh warga mengenai Nima. Pada waktu mengandung Sudan, Nima sering mencuri beras saat ia membeli satu liter beras di warung ujung jalan desa itu. Pernah ditegur Nima oleh si penjual beras, tetapi dengan wajah meradang, mulut Nima mengeluarkan api, mengata-ngatai si penjual beras tersebut karena merasa dirinya dituduh mencuri.
Tidak jelas apa mata pencaharian suami Nima membuat lelaki itu menafkahi istrinya tersebut dengan uang yang tak jelas asal-usulnya. Jika sedang kepepet, suami Nima yang kadang ikut minta sumbangan di jalan raya untuk masjid mengambil beberapa lembar uang masjid tersebut. Nima toh juga tidak peduli dari mana asal uang itu, yang terpenting pasangan suami-istri itu tidak mati kelaparan dan anak yang dikandungnya lahir dengan selamat.
Tiba-tiba adzan magrib menggema. Darso mengambil napas. Ingatannya soal pertengkaran Nima dengan anaknya lenyap. Ia mengambil napas. Diambilnya air putih di hadapannya. Mengucap bismillah, Darso meneguk air putih itu dengan cara yang diajarkan Nabi. Nima mengambilkan nasi untuk Darso.Sambil terus mengunyah makanan, Darso sesekali melihat perut istrinya. Ngeri merayapi tengkuknya bila ia ingat perangai Sudan.
Darso mencoba mengingat-ingat apakah dirinya sewaktu memulung pernah mengambil barang orang lain atau tidak. Ia tidak ingin barang rongsokan yang diambilnya masih menjadi hak orang lain. Ketakutan Darso yang mendasar ialah kekhawatirannya memberikan nafkah dari hasil yang tidak jelas asal usulnya, terlebih istrinya sedang hamil.
Setelah diingat, rasa-rasanya tidak pernah Darso mengambil hak orang lain sekalipun itu barang rongsok. Darso memang selalu berhati-hati setiap kali memulung. Tidak sembarangan ia mengambil barang rongsokan, selalu ditanya apakah ada yang memilikinya atau tidak. Darso tidak ingin kemiskinan menjadikannya gelap mata.
“Kalau sedang makan, jangan melamun,” suara istrinya mengagetkan Darso. Aminah lebih dulu menyudahi buka puasanya. Tak lama kemudian, Darso juga menyudahi makannya. Keduanya menuju kamar mandi, mengambil wudu, lalu salat berjamaah magrib.
Selesai salat magrib, Aminah mengajukan pertanyaan pada suaminya, “Apa kamu berdoa agar kita kaya?”